Waduh, Kuota BBM Pertalite Sudah Jebol 14%!

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
13 April 2022 19:35
Suasana antrian pengemudi motor untuk mengisi BBM di SPBU Pertamina Kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (31/3/2022) Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dinilai sudah saatnya naik. (CNBC Indonesia/ Muhamaad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebut kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar dan juga Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite (RON 90) telah terlampaui.

Saat Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (13/04/2022), Arifin menyebut realisasi penyaluran Solar bersubsidi selama Januari-Maret 2022 telah melampaui kuota sebesar 9,49% dan Pertalite telah over kuota sebesar 14%.

Arifin merinci, sampai dengan 2 April 2022, realisasi penyerapan Solar subsidi telah mencapai 4,08 juta kilo liter (kl) dari kuota awal tahun ini sebesar 15,10 juta kl, sehingga dalam sembilan bulan ke depan kuota hanya tinggal 11,02 juta kl.


Sementara Pertalite sudah terserap 6,48 juta kl dari kuota 23,05 juta kl, sehingga kuota sampai akhir tahun hanya tersisa tinggal 16,57 juta kl.

"Over kuota penyaluran Solar Pertamina sebesar 9,49% akibat peningkatan aktivitas pertambangan dan perkebunan seiring peningkatan harga komoditas global, pemulihan ekonomi yang lebih cepat pascapandemi. JBKP Pertalite juga mengalami over kuota sebesar 14% pada periode Januari-Maret 2022," jelasnya di hadapan Komisi VII DPR RI, Rabu (13/04/2022).

Dengan mempertimbangkan kuota sampai Maret yang sudah terlampaui tersebut, maka pihaknya mengusulkan penambahan kuota Solar dan Pertalite tahun ini.

Dia menyebut, kuota Solar subsidi diusulkan bertambah sebesar 2,29 juta kilo liter (kl) menjadi 17,39 juta kl, minyak tanah bertambah 0,10 juta kl menjadi 0,58 juta kl, dan Pertalite bertambah 5,45 juta kl menjadi 28,50 juta kl.

"Beberapa langkah strategi dalam menghadapi kenaikan harga minyak dunia kami siapkan... Jangka pendek, kami mengusulkan perubahan kuota BBM jenis tertentu yaitu minyak Solar, minyak tanah, dan JBKP Pertalite dan penyesuaian harga BBM non subsidi," ungkapnya saat Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (13/04/2022).

Dia menjelaskan, penambahan kuota Pertalite pada tahun ini dengan memperhatikan beberapa hal, antara lain pemulihan ekonomi yang lebih cepat pascapandemi di mana proyeksi rerata pertumbuhan konsumsi BBM jenis bensin dari tahun 2014-2021 sebesar 3,4%.

"Selain itu, melebarnya disparitas harga antara JBT (Jenis BBM Tertentu) Solar (subsidi) dan JBU (Jenis BBM Umum) Solar (non subsidi), serta JBKP Pertalite dengan JBU Pertamax, di mana adanya peralihan konsumsi bensin RON 92 (Pertamax) ke bensin RON 90 (Pertalite) yang disebabkan adanya kenaikan harga Pertamax pada 1 April 2022," paparnya.

Seperti diketahui, harga bensin Pertalite dan Solar subsidi pada periode 1 April 2022 ini tidak mengalami perubahan, di mana masing-masing masih dipertahankan pada Rp 7.650 per liter dan Rp 5.150 per liter.

Sementara harga Pertamax (RON 92) sudah dinaikkan menjadi Rp 12.500 - Rp 13.000 per liter dari sebelumnya Rp 9.000 - Rp 9.400 per liter. Artinya, ada selisih sekitar Rp 4.850 per liter antara harga Pertalite dan Pertamax.

Sedangkan harga Solar non subsidi kini sudah dibanderol sebesar Rp 12.950 - Rp 13.550 per liter untuk jenis Dexlite (CN 51). Artinya, ada selisih setidaknya Rp 7.800 per liter dengan harga Solar bersubsidi.

Adapun untuk penyerapan minyak tanah hingga 2 April 2022 tercatat sebesar 0,12 juta kl dari kuota tahun ini 0,48 juta kl, sehingga ada sisa kuota sebesar 0,36 juta kl hingga akhir tahun ini.

Kuota minyak tanah tahun ini pun diusulkan naik sebesar 100.000 kl atau 0,10 juta kl menjadi 0,58 juta kl dengan asumsi adanya pertumbuhan ekonomi di Indonesia bagian Timur sebesar 10,09% pada kuartal IV.

Sementara untuk LPG subsidi tabung 3 kg masih dipertahankan pada kuota 8 juta metrik ton. Sampai 2 April 2022, realisasi penyerapan LPG 3 kg tercatat 1,87 juta metrik ton, sehingga masih ada sisa 6,13 juta metrik ton hingga akhir tahun ini.

"Adapun kuota LPG 3 kg tetap yaitu 8 juta meterik ton," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Pertamax Naik, Kuota Pertalite Perlu Ditambah?


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading