Sri Lanka Gagal Bayar Utang, RI Aman Bu Sri Mulyani?

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
13 April 2022 10:03
Menteri Keuangan Sri Mulyani Memberikan Keterangan Pers Mengenai Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Memberikan Keterangan Pers Mengenai Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sederet negara berkembang dan miskin di dunia dikhawatirkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) kesulitan dalam pembayaran utang. Sri Lanka menjadi salah satunya dan masuk ke jurang krisis.

Negara yang berada di Asia Selatan ini kini dilaporkan default atau gagal membayar utang luar negerinya senilai US$51 miliar atau setara Rp732 triliun (asumsi Rp14.360/US$).

Bagaimana Indonesia?

Hingga akhir Februari 2022, posisi utang pemerintah sebesar Rp 7.014,58 triliun atau setara 40,17% terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Rasio utang kita relatif rendah baik diukur dari negara ASEAN, G20 atau seluruh dunia," jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Rabu (13/4/2022)

Berdasarkan jenisnya, utang pemerintah didominasi oleh instrumen SBN yang mencapai 87,88% dari seluruh komposisi utang per akhir Februari 2022. Atau sebesar Rp 6.164,2 triliun. Berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh rupiah yakni 70,07%.

Adapun kepemilikan SBN oleh investor asing terus menurun sejak tahun 2019 yang mencapai 38,57%, hingga akhir tahun 2021 yang mencapai 19,05%, dan per 15 Maret 2022 mencapai 18,15%.

SBN dalam mata uang rupiah mencapai Rp4.901,66 triliun, sementara dalam valuta asing Rp1.262,53 triliun. Keduanya diterbitkan dalam bentuk surat utang negara dan surat berharga syariah negara.

Sementara itu, komposisi utang pinjaman dari pinjaman tercatat hanya 12,12% atau senilai Rp850,38 triliun. Angka itu terdiri atas pinjaman dalam negeri Rp13,27 triliun dan pinjaman luar negeri Rp837,11 triliun.

Meski demikian, Sri Mulyani tetap akan menjaga secara hati-hati, mengantisipasi berbagai kemungkinan yang menghantam. Sehingga Indonesia tidak termasuk daftar negara yang kesulitan pembayaran utang.

Langkah yang diambil antara lain dengan mengoptimalkan belanja negara sesuai kebutuhan, meningkatkan pendapatan negara yang kini mendapatkan berkah harga komoditas internasional dan kerja sama dengan Bank Indonesia (BI).

"Kita menjaga secara hati-hati dan prudent karena kita lihat tekanan seluruh dunia meningkat," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sering Disebut Tukang Ngutang, Ini Jawaban Sri Mulyani!


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading