Harta Karun Hitam RI Ini Jadi Incaran Dunia, Segini Besarnya

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
07 April 2022 14:35
Ibu Kota Baru RI Dikepung

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kini tengah berlomba-lomba mengincar 'harta karun' Indonesia, khususnya sejak perang Rusia-Ukraina meledak pada 24 Februari 2022 lalu. Serangan Rusia ke Ukraina membuat sejumlah negara Barat menghindari komoditas energi, termasuk batu bara asal Rusia. Alhasil, pasokan di pasar internasional menjadi berkurang, dan berimbas pada lonjakan harga batu bara.

Bahkan, Komisi Uni Eropa kini tengah mengusulkan pelarangan pembelian batu bara asal Rusia. Kondisi ini diperkirakan akan kembali memicu lonjakan harga batu bara. Pada perdagangan Rabu (6/4/2022), harga batu bara kontrak Mei ditutup di level US$ 289,35 per ton, naik 3,34% dibandingkan hari sebelumnya. Harga batu bara sempat memecahkan rekor tertinggi hingga menembus US$ 446 per ton pada 2 Maret 2022 lalu.

Bila Eropa memutuskan melarang pembelian batu bara Rusia sebagai salah satu bentuk sanksi ke Rusia, maka tentunya negara-negara produsen dan eksportir batu bara akan kelimpahan rezeki dengan memperoleh pesanan dari para pembeli yang semula memperoleh pasokan batu bara dari Rusia.


Bila ini terjadi, maka Indonesia bisa menjadi salah satu negara yang akan ketiban pesanan-pesanan dari pembeli baru. Apalagi, Indonesia kini merupakan produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India.

Lantas, berapa sebenarnya 'harta karun' batu bara RI saat ini?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa jumlah cadangan batu bara yang dimiliki Indonesia saat ini mencapai 31,7 miliar ton. Sementara, untuk jumlah sumber daya batu bara saat ini tercatat mencapai 91,6 miliar ton.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang dianugerahi kekayaan sumber daya mineral dan batu bara yang luar biasa. Oleh karena itu, pemanfaatannya perlu didorong seoptimal mungkin.

Adapun jika dirinci, cadangan batu bara yang sebesar 31,7 miliar ton tersebut, terdiri dari kalori rendah kurang dari 5100 kal/gr sebesar 10,9 miliar ton. Kemudian, kalori sedang 5.100-6.100 kal/gr dengan jumlah 18,8 miliar ton, lalu kalori tinggi 6.100-7.100 kal/gr sebesar 1,5 miliar ton, dan kalori tinggi di atas 7.100 kal/gr sebanyak 0,6 miliar ton.

Sementara, untuk sumber daya batu bara yang mencapai 91,6 miliar ton, terdiri dari kalori rendah kurang dari 5.100 kal/gr dengan jumlah 29,7 miliar ton. Kemudian, kalori sedang 5.100-6.100 kal/gr dengan jumlah 51,9 miliar ton, kalori tinggi 6.100-7.100 kal/gr sebesar 7,2 miliar ton, dan kalori tinggi di atas 7.100 kal/gr sebesar 2,8 miliar ton.

"Jadi sumber daya batu bara ini yang harus kita kelola sedemikian rupa, bagaimana penggunaannya terjamin pasokan untuk dalam negeri, investasi dan penerimaan negara untuk melakukan eksploitasi," kata Lana dalam 'Diskusi Publik Keekonomian Gasifikasi Batu Bara', Kamis (7/4/2022).

Selain itu, Lana juga memaparkan bahwa realisasi produksi batu bara RI pada 2021 yakni sebesar 614 juta ton. Angka tersebut setidaknya hanya mencapai 98,2% dari target semula yang ditetapkan pada tahun 2021 sebesar 625 juta ton.

Sementara pemanfaatan batu bara domestik pada tahun lalu angkanya mencapai 133 juta ton atau 96,7% dari target 137,5 juta ton. Namun demikian, jika dilihat dari kurun waktu 2018, menurut Lana produksi batu bara RI terus mengalami peningkatan.

Bahkan, untuk tahun ini saja target produksi batu bara RI dinaikkan menjadi 663 juta ton.

"Di tahun 2022 ini kebutuhan batu bara untuk dalam negeri, baik untuk kelistrikan dan non kelistrikan, mengalami peningkatan ada di 165,7 juta ton," ujar Lana.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jika Kontrak Diperpanjang, Tambang BUMI Bakal Diciutkan?


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading