Blak-blakan Mentan Impor Kedelai Lebih Murah Dibanding Lokal

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
23 March 2022 09:30
Rapat Kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Tangkapan Layar Youtube DPR RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, membeberkan alasan petani RI ogah menanam tanaman kedelai. Padahal kebutuhan kedelai sangat besar untuk produksi berbagai banyak makanan seperti tahu/tempe.

"Untuk kedelai sekali-kali kita injak kaki importir itu, sudah impor melulu selama 15 tahun. Importasi besar karena tidak ada larangan terbatasnya salah satu tadi, maka tadi saya sampaikan ke Presiden, sampaikan harus ada lartas. nanti kita sudah produksi, impor masuk juga," kata Syahrul, dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (22/3/2022).

Salah satu masalah yang terjadi adalah perbedaan harga beli impor lebih murah dibandingkan produksi sendiri. Dimana harga beli impor Rp5000 per kilogram, sementara minimal petani harus dibeli dengan harga Rp 7.000 per kilogram.


"Petani kita nggak bisa untung kalo harganya di bawah Rp7.000. karena produksi 1 hektare hanya mampu menghasilkan (kedelai) 1,5 ton per hektare itu hasilnya kurang lebih Rp 3 juta. makanya kalo di bawah Rp7.000 gak bisa masuk ," kata Mentan.

Jika dibandingkan dengan Jagung, menurut Mentan, 1 hektare bisa menghasilkan sebanyak 5 ton. Meski dengan harga jual Rp 5.000 petani bisa menghasilkan untung yang lebih banyak dari kedelai.

"Dibandingkan jagung petani bisa menghasilkan untung mencapai Rp20 juta. Cost produksi Rp7 - 8 juta maka hasilnya jauh lebih banyak. Makanya nggak ada yang mau tanam kedelai," kata Mentan.

MenurutSyahrul dengan naiknya harga kedelai s

aat ini justru menjadi momentum untuk menanam kedelai, karena petani bisa diuntungkan. Namun yang menjadi masalah anggaran dari Kementerian Pertanian terkena refocusing sehingga sulit untuk mendorong penanaman kedelai.

"Kita cuma Rp14 triliun mau bikin apa, kemarin mau buat 400 ribu hektare diturunkan jadi 200 ribu hektar sekarang tinggal 57 ribu hektare. Jadi gak mungkin. Dengan anggaran APBN tadi izin saya lapor presiden kita harus masuk petani harus di beli dengan harga Rp9.000 - 10.000 kalau di bawah itu mereka akan pindah ke jagung," katanya.

"Dan kita paksakan untuk menanam 400 ribu untuk tahun ini, tahun depan kami tanam 1 juta hektare harus karena kita makan tempe 3 juta ton, kalau masih ada barangnya nggak apa-apa tapi kalau ketahan. Karena mereka menahan ekspornya karena terganggu dengan climate change. Makanya kita harus tangan," tambahnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Bakal Kemasukan Kedelai Impor dari Thailand


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading