Internasional

Maaf Bukan Menakuti, WHO Catat Covid-19 Global Naik Lagi

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
17 March 2022 07:40
The logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Thursday, June 11, 2009. The World Health Organization held an emergency swine flu meeting Thursday and was likely to declare the first flu pandemic in 41 years as infections climbed in the United States, Europe, Australia, South America and elsewhere. (AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Kesehatan Dunia (WHO) kembali memberikan data terbaru soal perkembangan Covid-19. Dalam situation report terbarunya yang diterbitkan Selasa (14/3/2022), lembaga PBB itu menyebut kasus Covid-19 secara global kini mengalami kenaikan.

Data tersebut diambil dari tanggal 7 hingga 13 Maret. Di mana kasus mingguan baru telah meningkat 8% jika dibanding minggu sebelumnya.


"Di enam wilayah WHO, lebih dari 11 juta kasus baru dan lebih dari 43.000 kematian baru dilaporkan," tulis badan tersebut dikutip dari situsnya, Kamis.

"Pada 13 Maret 2022, lebih dari 455 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 6 juta kematian telah dilaporkan secara global," kata WHO lagi.

Secara rinci, peningkatan kasus terjadi di Wilayah Pasifik Barat, Wilayah Afrika dan Wilayah Eropa. Masing-masing naik 29%, 12% dan 2%.

Sedangkan penurunan telah dilaporkan oleh Wilayah Mediterania Timur, Wilayah Asia Tenggara dan Wilayah Amerika. Masing-masing -24%, -21%, dan -20%.

Meski kasus naik, jumlah kematian mingguan baru menurun secara global sebesar 17%. Hanya Wilayah Pasifik Barat yang melaporkan peningkatan kematian mingguan baru naik 12%.

Sedangkan sisanya menurun. Penurunan dilaporkan di Wilayah Mediterania Timur (-49%), Wilayah Afrika (-41%), Wilayah Eropa (- 23%), Wilayah Amerika dan Wilayah Asia Tenggara (masing-masing -15%).

Sebelumnya WHO juga memperingatkan soal endemi. Direktur Eksekutif Badan Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan mengatakan perbedaan endemi dan pandemi adalah virus ada meski lebih rendah dan musiman tapi tetap tak bisa hilang dan matin mengancam.

"HIV, tuberkulosis, dan malaria endemi, (tetapi) membunuh jutaan orang di planet ini setiap tahun," kata Ryan merujuk ke penyakit endemi lain, dalam video yang diunggah di Twitter WHO.

"Jadi hanya mengubah dari pandemi ke endemi hanya mengubah label. Itu tidak mengubah tantangan yang kita hadapi. Kita perlu mengontrol berkelanjutan pada virus ini." tambahnya.

Karenanya, tegasnya, program pengendalian yang kuat untuk mengurangi infeksi tetap perlu dilakukan negara-negara di dunia. Termasuk ke kelompok rentan dan menurunkan angka kematian.

Sebelumnya, wacana endemi berkembang pasca pelonggaran besar-besaran aturan Covid-19 di sejumlah negara. Di antaranya Inggris, Swedia, Norwegia, Arab Saudi, Kenya, hingga tetangga RI, Malaysia dan Thailand.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ada Warning WHO, Warga RI Sebaiknya Jangan ke Eropa Dulu


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading