Simak, Ini Kata Pertamina Soal Nasib Harga Pertalite-Pertamax

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
10 March 2022 10:45
Pengendara mengisi BBM di Salah satu SPBU, Kuningan, Jakarta, Minggu (10/2). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia hingga kini masih bertahan di atas US$ 100 per barel.

Meski pada perdagangan Kamis pagi (10/03/2022) pukul 07:24 WIB, harga minyak jenis Brent turun 13,16% menjadi US$ 111,14 per barel dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya atau bahkan harga sempat menembus US$ 127,98 per barel kemarin, namun ini masih jauh lebih tinggi dari asumsi harga minyak Indonesia (ICP) pada APBN 2022 yang ditetapkan sebesar US$ 63 per barel.

Harga minyak jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) juga berada pada level US$ 108,7 per barel.


Meski hari ini turun tajam, tetapi Brent dan light sweet masih membukukan kenaikan harga masing-masing 19,91% dan 21,17% dalam sebulan terakhir secara point-to-point. Selama setahun ke belakang, harga bahkan telah melonjak 62,63% dan 67,78%.

Lonjakan harga minyak mentah dunia ini turut berimbas pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi di dalam negeri. Baik Shell Indonesia, BP-AKR, hingga PT Pertamina (Persero) telah menaikkan beberapa jenis BBM sejak Februari dan Maret 2022 ini.

Pertamina pada 3 Maret 2022 resmi kembali menaikkan harga untuk tiga jenis produk BBM non subsidi, yakni Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (Cetane Number/CN 51), dan Pertamina DEX (CN 53).

Ini merupakan kenaikan harga BBM non subsidi Pertamina untuk kali kedua di tahun 2022 ini. Sebelumnya, Pertamina juga menaikkan harga ketiga jenis produk BBM non subsidi tersebut pada 12 Februari 2022 lalu.

Adapun kenaikan harga jual ketiga jenis BBM Pertamina per 3 Maret 2022 ini di kisaran Rp 500 - Rp 1.000 per liter.

Meski demikian, untuk harga BBM non subsidi jenis bensin Pertamax (RON 92) dan Pertalite (RON 90) tidak ada perubahan alias tetap dipertahankan masing-masing pada harga Rp 9.000 dan Rp 7.650 per liter.

Masih tingginya harga minyak dunia ini, lantas bagaimana nasib dengan harga BBM non subsidi lainnya, khususnya jenis bensin Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92) yang sudah sekitar tiga tahun tidak mengalami kenaikan? Apakah ada kemungkina Pertamina juga bakal segera menaikkan kedua jenis bensin non subsidi tersebut?

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman mengatakan, Pertamina saat ini masih memutuskan harga Pertalite tetap berada pada harga Rp 7.650 per liter meski di tengah lonjakan harga minyak.

Fajriyah menjelaskan bahwa Pertamina sebagai BUMN yang berperan dalam mengelola energi nasional juga sangat mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam penetapan harga produk BBM.

"Kami sepenuhnya mendukung kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, sehingga meski harga minyak dunia menembus US$ 130 per barel, Pertamina terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memutuskan harga Pertalite akan tetap di harga jual Rp 7.650 per liter," ucap Fajriyah, seperti dikutip dari keterangan resmi perseroan, Rabu (09/03/2022).

Menurutnya, harga tersebut tidak berubah sejak tiga tahun terakhir dan saat ini porsi konsumsi Pertalite adalah yang terbesar atau sekitar 50% dari total konsumsi BBM nasional, sehingga pemerintah terus melakukan pembahasan untuk skenario kompensasi Pertalite agar stabilisasi harga Pertalite dapat terjaga.

Untuk mengurangi tekanan lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap peningkatan biaya penyediaan BBM, lanjut Fajriyah, Pertamina terus melakukan berbagai efisiensi di segala lini, termasuk menekan biaya produksi BBM dalam negeri. Di antaranya dengan memaksimalkan penggunaan minyak mentah domestik dan mengoptimalkan penggunaan gas alam untuk penghematan biaya energi. Pararel juga dilakukan peningkatan produksi kilang untuk produk yang bernilai tinggi.

Di samping itu, penyesuaian harga produk juga dilakukan secara selektif, hanya untuk BBM Non Subsidi tertentu seperti Pertamax Series maupun Dex Series yang porsi konsumsinya hanya sekitar 15% dari total konsumsi BBM Nasional.

Jenis BBM ini pun menurutnya sebagian besar dikonsumsi oleh kalangan konsumen mampu, pemilik kendaraan pribadi jenis menengah ke atas. Ke depannya, harga produk BBM ini akan terus disesuaikan secara rutin mengikuti harga pasar sesuai ketentuan pada Peraturan Menteri ESDM No. 62 tahun 2017.

"Pertamina sangat berhati-hati dalam menetapkan harga. Namun kami yakin segmen konsumen ini telah merasakan manfaat BBM berkualitas yang lebih hemat dan lebih baik untuk perawatan mesin kendaraan, sehingga dapat menerima harga yang selama ini tetap sangat kompetitif dibandingkan produk yang sejenis lainnya," tandasnya.

Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina juga mengungkapkan bahwa perseroan akan mengkaji harga BBM non subsidi ini setiap dua minggu sekali, seperti yang dilakukan sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

"Betul, kami akan review harga setiap dua minggu. Sebelum pandemi kita review harganya setiap dua minggu sekali. Kita akan melakukan hal tersebut. Sama seperti operator SPBU lainnya juga demikian," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menilai, menguatnya harga minyak dunia membuat harga keekonomian Pertalite di atas Rp 10 ribu per liter.

Sebagai perbandingan, harga bensin setara Pertalite atau RON 90 di badan usaha swasta yakni BP-AKR menjual BP 90 pada harga Rp 11.990 per liter per 1 Maret 2022.

Bahkan, untuk harga bensin setara Pertamax atau RON 92 di badan usaha penyalur BBM swasta per 1 Maret ini telah menembus hampir Rp 13.000 per liter.

Shell Indonesia misalnya, per 1 Maret 2022 menjual Shell Super (RON 92) sebesar Rp 12.990 per liter. Sementara BP-AKR menjual bensin RON 92 sebesar Rp 12.500 per liter.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga BBM Shell Sudah Naik, Pertamina Siap-Siap Nyusul?


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading