Internasional

Dihajar Sanksi, 250 Perusahaan Asing Tarik Diri dari Rusia

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
08 March 2022 20:01
FILE PHOTO: Logos are on display outside a branch of VTB bank in Moscow, Russia May 30, 2019. REUTERS/Evgenia Novozhenina/File Photo/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar 250 perusahaan multinasional telah memutuskan untuk menarik kegiatan operasionalnya dari Rusia. Hal ini diakibatkan hujanan sanksi internasional yang dijatuhkan ke negara itu pascaserangan Moskow ke Ukraina.

Laporan Yale School of Management mengatakan bahwa perusahaan tersebut mencakup raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft, perusahaan energi seperti BP, hingga perusahaan otomotif dan ritel. Beberapa telah meninggalkan pasar sama sekali, sementara yang lain 'sekadar' mengumumkan penangguhan penjualan dan pengiriman.

"Penutupan tersebut akan menyebabkan puluhan ribu kehilangan pekerjaan langsung bagi staf lokal Rusia dan merupakan visualisasi nyata dari isolasi internasional dan ekonomi Rusia setelah tindakannya di Ukraina," ujar lembaga pendidikan itu sebagaimana dikutip Moscow Times, Selasa (8/3/2022).


"Negara ini diperkirakan akan menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak jatuhnya Uni Soviet dan rubel Rusia telah kehilangan hingga setengah nilainya sejak sebelum invasi Putin."

Sementara itu, dilaporkan juga beberapa perusahaan yang masih bertahan seperti McDonald's, Starbucks, dan Coca-Cola telah menghadapi tekanan berat dari negara asalnya, Amerika Serikat (AS). Dorongan penarikan operasional ini makin kencang karena laporan kematian warga sipil dan tuduhan kejahatan perang Rusia di Ukraina terus meningkat.

Sejauh ini, deretan sanksi negara Barat masih terus dijatuhkan. Setelah sebelumnya blok negara pimpinan Amerika Serikat (AS) itu menjatuhkan sanksi ekonomi dan keuangan, saat ini negara-negara Barat dilaporkan fokus untuk menjatuhkan sanksi pelarangan penjualan energi dari Rusia.

Meski begitu, langkah ini masih dalam pengkajian serius. Pasalnya, negara Eropa hingga saat ini masih menggantungkan kebutuhan energinya dari negara pimpinan Presiden Vladimir Putin itu. Bahkan, Benua Biru menggantungkan hingga 40% kebutuhan gasnya ke Moskow.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dampak Sanksi Ekonomi ke Rusia Mulai Terasa, Ini Buktinya!


(tps/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading