Ini Ternyata Harta Karun Hijau RI yang Jadi Incaran Maling

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
02 March 2022 08:50
Vanili (Dok via desa ekspor indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia ternyata memiliki harta karun hijau yang potensial jadi andalan ekspor. Emas hijau ini berupa tanaman yang masuk ke dalam suku anggrek-anggrekan. Yaitu, vanili atau Vanila planifolia.

Berdasarkan pantauan di beberapa platform belanja online,vanili dijual dengan harga bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan.

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) Kementan mencatat,vanili merupakan komoditas ekspor penghasil devisa negara 95% diusahakan oleh perkebunan rakyat.


Volume ekspor vanili tertinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu 6.363 ton. Kinerja ekspor dilaporkan cenderung menurun, terutama akibat serangan jamur yang menyebabkan penyakit busuk batang vanili. Dan menurunkan produktivitas hingga 30-80%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat,vanili sebagai tanaman perkebunan rakyat. Dimana data luasan areal termutakhir adalah tahun 2014, yakni 13,60 hektare (ha). Susut dari tahun 2012 yang tercatat 19,90 ha, dan tahun 2013 seluas 16,62 ha.

Kementerian Perdagangan (Kemendag)mencatat, vanili kerap disebut sebagai emas hijau karena memiliki nilai ekonomis serta harga jual yang tinggi. Biji vanili mencapai harga tertinggi di tahun 2018, yakni US$650/kg. Namun, pada tahun 2020, harga biji vanili terkoreksi menjadi US$200/kg.

Masih mengutip Kemendag, sepanjang tahun 2015 - 2019, ekspor produk vanili Indonesia tumbuh positif sebesar32,55%.

Tahun 2019, Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai eksportir terbesar dunia setelah Madagaskar dan Prancis.

Ketua Umum Dewan Vanili Indonesia John Tumiwa mengatakan, pertanaman vanili di Indonesia masih mengikuti siklus harganya yang pernah mencatat rekor di tahun 2018.

Menurutnya, saat ini belum ada data pasti soal luasan pertanaman vanili nasional.

"Tapi, produksi nasional tahun 2021 bisa mencapai 400 metrik ton vanili kering dan tahun 2022 diprediksi bisa mencapai 500 metrik ton kering," katanya kepada CNBC Indonesia, belum lama ini.

Untuk harga, kata dia,vanili kering berkisar US$80-150 per kg, namun untuk grade gourmet bisa mencapai US$150-175 per kg.

Mengutip situs Vanili Indonesia, harga vanili tahun 2022 diprediksi masih akan melejit. Untuk vanili kering batangan diprediksi bisa mencapai Rp5,2 juta per kg, harga vanili basah Rp600.000 per kg.

Vanili (Dok. Amelius Manoppo/ UD Lo'or)Foto: Vanili (Dok. Amelius Manoppo/ UD Lo'or)
Vanili (Dok. Amelius Manoppo/ UD Lo'or)

Harga yang fantastis ini lah yang menyebabkan vanili kerap diintai pencuri.

Dedy Haryadi, seorang petani vanili di Cianjur menyebutkan, harga vanili basah (biji/ vanilla beans) saat ini berkisar Rp200 ribu per setengah kilogram. Harga saat ini diakui sedang dalam fase koreksi. Dimana untuk menghasilkan 1 kg vanili kering, dibutuhkan 7 kg vanili basah.

"Soal harga itu sudah jadi bagian dari supply demand. Yang jelas, biaya pokok kita itu, sampai panen bisa berkisar Rp100-150 ribu per pohon. Di awal panen pertama, biasanya dapat setengah kilogram basah. Begitu masuk panen tahun ke-3 atau ke-4 sudah bisa impas," kata Dedy kepada CNBC Indonesia.

Soal menjual basah atau kering, ujarnya, itu pilihan.

Untuk menjual dalam bentuk kering, menurut dia, tidak membutuhkan teknologi canggih. Namun, tetap saja membutuhkan pengetahuan soal proses pengeringan yang tepat.

Idealnya, kata dia,vanili dijual dalam bentuk kering.

"Tapi, karena tidak semua pemahaman petani sama, sementara pembeli maunya seragam, jadinya dia beli basah. Lebih baik dia yang mengeringkan supaya seragam," kata Deddy.

Menurut Deddy, tanaman vanili dapat tumbuh di areal 200-600 meter di atas permukaan laut. Ini adalah kategori ideal. Namun, tetap dapat tumbuh baik di lahan yang berada di atas 1.500 meter di atas permukaan laut.

Pembina petani dari Koperasi Desa Ekspor Mahdalena Lubis mengatakan, biasanya petani vanili lebih memilih menjual dalam bentuk basah.

"Kalau untuk yang kering, petani kadang ragu. Karena kalau prosesnya salah, atau prosedurnya nggak sesuai, bisa berjamur. Memang lebih murah, tapi dari pada risiko, mereka lebih memilih menjual basah," kata Mahdalena yang juga Direktur Kerja Sama Koperasi Desa Ekspor Indonesia kepada CNBC Indonesia belum lama ini.

Selain itu, lanjutnya, dengan menjual basah, petani bisa mendapat dana segar lebih cepat.Vanili yang hanya panen sekali dalam setahun, jadi tantangan tersendiri bagi petani. Untuk menanggung biaya hidup dan ongkos pertaniannya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ternyata Gampang-Gampang Susah Dapat 'Harta Karun' Hijau RI


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Baca Juga
Features
    spinner loading