Rawan! 'Harta Karun' Hijau RI Jadi Incaran Para Maling

News - Damiana, CNBC Indonesia
14 February 2022 13:40
Vanili Organik (Dok: Amelius Manoppo - UD Lo'or)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga vanili yang fantastis menjadikannya sebagai komoditas incaran para pencuri saat di kebun. Ketua Dewan Vanili Indonesia John Tumiwa mengatakan, pencurian vanili saat proses polinasi menyebabkan banyak petani melakukan panen muda.

"Ini yang menyebabkan citra vanili Indonesia itu jelek. Imejnya itu murah ada bau asap, dan muda. Sehingga, sering vanili Indonesia itu buat campuran, biasanya dengan vanili Madagaskar. Dan, akhirnya mendapatkan produk akhir yang baik," kata John kepada CNBC Indonesia, belum lama ini.

Prose polinasi hingga panen, jelasnya, biasanya membutuhkan waktu sekitar 8 bulan.


"Tidak mudah bagi petani dalam masa hiatus ini. Petani melaporkan, kalau setiap Jumat atau hari Minggu, beans (vanili basah/ polong) dicuri. Karena pada saat itu petani sedang ibadah atau salat. Itu waktunya si pencuri gerilya. Akibatnya, mereka tidak lagi ke masjid atau atau gereja, melainkan ke ladang menjaga vanili," kata John.

Pencurian beans atau vanili basah, kata dia, permasalahan yang dihadapi petani selama bertahun-tahun dan belum terpecahkan.

"Kasus pencurian ini tentu menyulitkan petani, apalagi kalau mereka harus panen muda. Karena itu, kita berharap supaya ada varietas yang bisa panen tidak harus menunggu musim," katanya.

Pembina petani dan fasilitator organisasi nirlaba, Vanili Indonesia, Hendra Sipayung mengatakan, pencurian sudah menjadi momok bagi petani di Indonesia.

Petani Vanili (Tangkapan Layar via Instagram @desa_ekspor_indonesia)Foto: Petani Vanili (Tangkapan Layar via Instagram @desa_ekspor_indonesia)
Petani Vanili (Tangkapan Layar via Instagram @desa_ekspor_indonesia)

"Karena harganya, minat bertanam vanili ini tinggi. Tapi, pencurian ini jadi momok. Apalagi, pencuri tidak lagi hanya mengambil buahnya, tapi juga mencabut pohonnya. Tanamannya juga diambil. Karena itu, balik lagi, kelembagaan petani vanili Indonesia itu penting. Dari situ bisa dikembangkan standar traceability dan kewajiban SNI atau sertifikasi tanaman vanili Indonesia," kata Hendra.

Hal itu, imbuhnya, bisa sekaligus mengedukasi pembeli agar tidak terjebak dan justru menjadi "penadah" vanili curian.

"Soal traceability ini perlu jadi perhatian pemerintah. Jangan-jangan, buyer sudah menikmati hasil pencurian, jadi penadah," kata Hendra.

Amelius Manoppo, petani vanili dan pemilik UD Lo'or di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara menuturkan, pencurian jadi salah satu kendala utama. Apalagi jika sudah menjelang masa panen.

"Petani biasanya bekerja sama, ada yang bikin ranjau, ada yang bawa anjing. Bekerja sama menjaga," kata Amelius.

Selain pencurian, kendala lainnya adalah keterbatasan akses petani langsung ke pembeli.

"Kami berharap bisa langsung ekspor ke buyer, tanpa perantara pedagang. Kami sedang mencari, minta bantuan Kementan. Kami sudah pernah ekspor langsung, tapi sudah lama sekali dan sistemnya beli putus," kata Amelius.

Menurut Hendra, hanya sedikit petani vanili Indonesia yang bisa berhubungan langsung dengan pembeli.

"Bapak John Tumiwa mungkin salah seorang di antaranya, yang sudah bertemu real buyer. Bukan pedagang atau second hand perusahaan perdagangan. Jangan-jangan pasar ini hanya dikuasai 7-8 perusahaan besar atau oligopoli," kata Hendra.

Mahdalena menambahkan, pendataan petani yang tersistem digital dibutuhkan. Yang dilanjutkan dengan pembentukan koperasi petani, sentralisasi komoditas agar mutu seragam, hingga sistem lelang.

"Dengan begitu bisa ditelusuri, panen di mana brapa banyak, siapa pembeli, hargan transparan diketahui petani karena sistem lelang. Semua sistem harus online," kata Mahdalena.

Toh, imbuh dia, saat ini sudah banyak pengusaha milenial yang jadi pemodal petani di daerah, dan langsung terhubung dengan perusahaan besar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ternyata Gampang-Gampang Susah Dapat 'Harta Karun' Hijau RI


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Baca Juga
Features
    spinner loading