Internasional

WHO Peringatkan Penurunan Kasus Covid-19, Kenapa?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
21 February 2022 06:50
The logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Thursday, June 11, 2009. The World Health Organization held an emergency swine flu meeting Thursday and was likely to declare the first flu pandemic in 41 years as infections climbed in the United States, Europe, Australia, South America and elsewhere. (AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta, CNBC IndonesiaOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan soal penurunan kasus global. Dalam pernyataan pers pekan lalu, WHO mengatakan penurunan mungkin terjadi karena penurunan tingkat pengujian di seluruh dunia.

Ini, kata Pemimpin Teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove, mungkin tidak mencerminkan jumlah kasus global sesungguhnya yang dilaporkan dan penyebaran virus sebenarnya. "Kita perlu berhati-hati dalam menafsirkan tren penurunan ini secara berlebihan," katanya.


Dia mengatakan kekhawatiran yang lebih besar adalah peningkatan kematian yang dilaporkan akibat Covid-19 selama enam minggu berturut-turut. Wilayah Mediterania Timur WHO, yang mencakup Timur Tengah, melaporkan kematian paling banyak, disusul Pasifik Barat.

Pernyataan ini disampaikan di tengah banyaknya negara-negara yang melakukan pelonggaran Covid-19. Beberapa malah menghilangkan protokol kesehatan meski angka vaksinasi masih rendah, seperti Republik Dominika.

Ini juga disampaikan WHO di tengah munculnya subvarian Omicron BA.2. Anak Omicron (son of Omicron) sekarang menjadi yang dominan di 10 negara, termasuk tetangga RI, Brunei Darussalam dan Filipina.

Gelombang Omicron juga dianggap WHO belum mencapai puncaknya. Kenaikan justru terjadi di wilayah Asia Timur akibat imlek dan Oseania. Memang beban kasus turun di Eropa. Namun kasus masih meningkat di beberapa bagian Eropa, termasuk di Slovakia, Latvia, dan Belarus.

Kenaikan tertinggi malah terjadi di Rusia. Kasus baru telah meningkat sebesar 79% selama dua minggu terakhir, menurut Pusat Sains dan Teknik Sistem di Universitas Johns Hopkins.

Sementara itu, dalam keterangan berbeda di Twitter Senin (21/2/2022), Van Kerkhove, kembali menekankan bahwa BA.2 masuk "varian of concern" alias varian yang diwaspadai. Ia menyatakan itu di tengah desakan publik soal klasifikasi BA.2.

BA.2, ujarnya, adalah Omicron. Sehingga ini memang telah diklasifikasikan sebagai VOC.




[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos WHO Ngamuk Sebut Booster Memperpanjang Pandemi, Kok Bisa?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading