Jangan Kaget! Harta Karun Super Langka RI Sampai Miliaran Ton

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
08 February 2022 15:10
Rare earth element atau yang juga dikenal dengan sebutan logam tanah jarang (LTJ) . (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia ternyata menyimpan 'harta karun' super langka alias Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element (RRE).

'Harta karun' super langka ini akan semakin diincar dunia ke depannya karena dibutuhkan untuk bahan baku komponen teknologi canggih, seperti baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), hingga peralatan senjata atau industri pertahanan dan kendaraan listrik.

Tak disangka-sangka, total potensi logam tanah jarang di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 miliar ton. Hal tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 2015, dikutip dari "Kajian Potensi Mineral Ikutan pada Pertambangan Timah" yang dirilis Pusat Data dan Teknologi Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM 2017.


"Lokasinya tersebar di Pulau Sumatera (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung), Pulau Kalimantan (terutama Kalimatan Barat dan Kalimantan Tengah), Pulau Sulawesi dan Pulau Papua) dengan perkiraan total potensi mencapai 1,5 miliar ton," ungkap ringkasan eksekutif "Kajian Potensi Mineral Ikutan pada Pertambangan Timah" yang dirilis Kementerian ESDM pada 2017 lalu.

Dari ke-17 unsur logam tanah jarang tersebut, enam di antaranya sangat diperlukan untuk pengembangan kendaraan listrik, yaitu lanthanum (La), cerium (Ce), neodymium (Nd) untuk baterai, praseodymium (Pr), neodymium (Nd), terbium (Tb), dan dysprosium (Dy) untuk generator dan motor listrik.

Dari kajian yang dilakukan, diketahui bahwa untuk mendapatkan LTJ tersebut dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu mendapatkan dari hulu penambangan timah dengan kadar yang lebih besar dan biaya lebih murah, dan dari pengolahan slag timah dengan kadar yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang pertama dan biaya yang lebih tinggi.

Dengan besarnya potensi logam tanah jarang di Indonesia tersebut, maka bila Indonesia menggarapnya dengan serius, maka Indonesia diprediksi bakal menjadi pesaing utama China dalam memenuhi permintaan LTJ dunia.

Perlu diketahui, China merupakan penghasil LTJ terbesar di dunia saat ini. Pasalnya, China memiliki endapan LTJ dalam bentuk primer berupa produk sampingan dari tambang bijih besi, dan sekunder berupa endapan aluvial dan endapan lateritik.

"Perolehan LTJ akan jauh lebih besar jika dilakukan dari sejak hulu penambangan timah, mampu mencapai 74% pada tahun 2045, dan Indonesia diprediksi akan menjadi pesaing utama China dalam memenuhi demand dunia," tulis kajian tersebut.

Dari pengolahan slag, enam kadar yang tertinggi yang dapat di-recovered adalah cerium (16.400 part per million, ppm), yttrium (13.900 ppm), lanthanum (7.470 ppm), neodymium (6.470 ppm), dysprosium (2.210 ppm), dan praseodymium (1.810 ppm).

Jika kapasitas smelter untuk pengolahan slag ini ditingkatkan hingga 3.000 ton per tahun, maka akan dapat memenuhi permintaan dunia hingga 1,13% pada 2045 sebesar 360 ribu ton. Kapasitas 10.000 ton per tahun dapat memenuhi permintaan dunia sekitar 4,23% pada tahun 2056 sebesar 437 ribu ton.

Namun sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih belum mengeksploitasinya.

Adapun produsen LTJ hingga proses oksidasi (oxide) antara lain China di mana produksi hampir 97% pasokan LTJ oxide dunia, lalu Jepang, Australia, dan Amerika Serikat.

Sementara untuk produsen dengan nilai tambah lebih tinggi lagi berupa metal (logam) dan alloy untuk LTJ ini antara lain Kanada, Inggris, China, dan Jepang. Sementara olahan yang lebih tinggi lagi dan tentunya dengan harga lebih mahal yakni diproduksi oleh Jepang dan Amerika Serikat.

Pada akhirnya, logam tanah jarang ini diserap oleh produk-produk berteknologi canggih seperti produsen gadget atau elektronika seperti Apple, Samsung, LG, lalu produsen kendaraan seperti GM, Ford, Toyota, Nissan, Hyundai, Mitsubishi, dan produk-produk canggih lainnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Badan Geologi Beberkan Alasan Harta Karun Langka Tak Digarap


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading