Internasional

Fakta! Krisis Inggris Makin Ngeri, Warga Terancam Sengsara

News - sef, CNBC Indonesia
04 February 2022 07:01
Atrian vaksin booster di Inggris. (REUTERS/HANNAH MCKAY)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi di Inggris makin dalam. Ini diyakini membuat warga makin sengsara apalagi karena kenaikan biaya hidup.

Regulator energi Inggris, Ofgem, mengumumkan kenaikan harga gas dari pemasok akan dibebankan ke konsumen. Tarif listrik dan gas akan naik 54% ke pengguna rumah tangga.

Ini akibat pembelian gas yang tidak memiliki "kesepakatan tetap" dengan pemasok. Harga yang harus dibayar konsumen naik sebesar 693 pound menjadi 1.971 pound (sekitar Rp 38.000.000) per tahun.


Kenaikan harga ke konsumen akan berlaku mulai April. Bukan hanya Inggris, aturan juga berlaku di Wales dan Skotlandia.

"Kami tahu kenaikan ini akan sangat mengkhawatirkan bagi banyak orang, terutama mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan," kata Kepala Eksekutif Ofgem Jonathan Brearley, dikutip AFP Jumat (4/2/2022).

"Pasar energi menghadapi tantangan besar karena kenaikan harga gas global yang belum pernah terjadi sebelumnya, peristiwa sekali dalam 30 tahun," tambahnya.

"Peran Ofgem sebagai pengatur energi adalah untuk memastikan bahwa, di bawah batas harga, perusahaan energi hanya dapat mengenakan harga yang wajar berdasarkan biaya sebenarnya untuk memasok listrik dan gas."

Sementara itu, bagian Britania Raya lain, Irlandia Utara juga akan melakukan hal sama. Perlu diketahui, wilayah ini memiliki regulator terpisah.

Tagihan gas rumah tanga bakal naik. Namun sayangnya tak ada detil kenaikan dan kapan.

Musim dingin disalahkan sebagai penyebab melonjaknya harga. Ini disebut telah memberi tekanan ke pasokan dan peningkatan permintaan.

Belum lagi masalah geopolitik di Rusia dan Ukraina. Rusia diketahui sebagai sumber gas Eropa, energi fosil satu-satunya yang dikampanyekan dipakai saat ini, di tengah penutupan PLT Nuklir dan batu bara serta tak maksimalnya energi terbarukan seperti angin.

Pemerintah sendiri telah didesak untuk mengambil tindakan. Perdana Menteri Boris Johnson, yang kini dijerat skandal pelanggaran aturan lockdown karena pesta di Downing Street tahun 2020, berada di bawah tekanan untuk mengendalikan krisis biaya hidup.

Menteri keuangan Rishi Sunak diperkirakan akan mengumumkan paket dukungan ke warga. Menurut The Times, ini termasuk potongan harga untuk rumah tangga miskin.

Inflasi Inggris naik mendekati level tertinggi 30 tahun di bulan Desember. Kenaikan tagihan listrik dan gas rumah tangga diyakini akan memicu kekhawatiran lebih lanjut tentang tekanan biaya hidup di negeri itu.

Apalagi, kenaikan pajak pemerintah juga direncanakan di April. Belum lagi, Bank of England diperkirakan akan menaikkan suku bunga dari 0,25% menjadi 0,5% karena upaya untuk menjinakkan inflasi yang merajalela.

"Tahun 2022 mungkin akan menjadi tahun tersulit bagi banyak keluarga di Inggris," kata direktur salah satu supermarket, Richard Walker ke BBC.

"Kita berbicara tentang harga energi dan biaya yang secara langsung mempengaruhi konsumen, tetapi itu juga akan memiliki dampak besar bagi bisnis juga. Dalam hal ritel bahan makanan, setiap supermarket akan menaikkan harganya."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Fakta-fakta Krisis di Inggris, Apa Saja?


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading