Internasional

George Soros Warning Keras Xi Jinping, Bakal Lengser?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
02 February 2022 11:10
FILE PHOTO: Soros Fund Management Chairman George Soros speaks during a panel discussion at the Nicolas Berggruen Conference in Berlin, October 30, 2012. REUTERS/Thomas Peter/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor kawakan dunia George Soros memberikan sebuah peringatan keras kepada Presiden China Xi Jinping. Ia menyebut bahwa saat ini posisi Xi sedang terancam akibat pandemi Covid-19 dan krisis properti.

Dalam sebuah wawancara dengan Hoover Institution baru-baru ini, Soros mengatakan bahwa varian Omicron Covid-19 "mengancam kehancuran Xi Jinping". Pasalnya, virus itu sudah tidak lagi terkendali di China.


"Vaksin China dirancang untuk menangani varian Wuhan (asli), tetapi dunia sekarang berjuang dengan varian lain," ujar investor berdarah Yahudi itu dilansir CNBC International, Rabu (2/2/2022).

"Xi Jinping tidak mungkin mengakui ini saat dia menunggu untuk diangkat untuk masa jabatan ketiga dan dia menyembunyikannya dari orang-orang China sebagai rahasia bersalah."

Selain itu, Soros juga menggarisbawahi China sedang menghadapi krisis ekonomi yang berpusat pada pasar real estatnya. Industri properti sendiri merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Tirai Bambu dan krisis properti berarti sebuah malapetaka bagi negeri itu.

"Orang yang membeli apartemen harus mulai membayarnya bahkan sebelum dibangun, jadi sistemnya dibangun secara kredit. Pemerintah daerah memperoleh sebagian besar pendapatan mereka dari menjual tanah dengan harga yang terus meningkat," klaim Soros.

Lebih lanjut, Soros juga menegaskan bahwa satu-satunya langkah Xi yang tersedia adalah memaksakan kebijakan "nol-Covid" China. Langkah ini memungkinkan sebuah wilayah yang mencatatkan hanya satu saja kasus infeksi mengalami penguncian besar-besaran.

Dengan model itu, langkah ini juga mendapatkan banyak kritikan lantaran karena konsekuensi ekonominya yang meluas baik di dalam maupun luar negeri. Ia juga mengungkapkan bahw di dalam negerinya Xi mulai mempunyai musuh.

"Upaya paya Xi untuk memaksakan 'kontrol total' atas negara itu melalui serangkaian penguncian yang parah dapat membahayakan peluangnya untuk dipulihkan sebagai pemimpin partai karena strategi tersebut tidak mungkin berhasil melawan varian yang menular seperti omicron," tambah Soros.

"Meskipun tidak ada yang bisa menentangnya secara terbuka karena dia mengendalikan semua tuas kekuasaan, ada pertarungan yang terjadi di dalam PKC yang begitu tajam sehingga telah menemukan ekspresi di berbagai publikasi partai."

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan global tahun 2022. Ini akibat meningkatnya infeksi Covid-19 di berbagai wilayah dunia, gangguan rantai pasokan, hingga inflasi yang lebih tinggi menghambat pemulihan ekonomi.

Dalam laporan World Economic Outlook yang diterbitkan Selasa (25/1/2022), IMF meramalkan produk domestik bruto global melemah dari 5,9% pada 2021 menjadi 4,4% pada 2022. Ini setengah poin persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Revisi dipimpin oleh penurunan pertumbuhan di dua ekonomi terbesar dunia. Yakni Amerika Serikat (AS) dan China.

AS diperkirakan akan tumbuh 4,0% pada tahun 2022, 1,2 poin persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Salah satunya dipicu oleh tindakan Federal Reserve (The Fed) yang menarik stimulus moneternya bahkan ketika ada gangguan rantai pasokan membebani perekonomian.

Sementara China diperkirakan tumbuh 4,8% tahun ini, turun 0,8 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Penurunan dipicu oleh kenaikan kasus Covid, kebijakan nol-Covid, serta masalah keuangan di antara pengembang propertinya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mengenal George Soros, Miliarder Yahudi yang Singgung WW3


(tps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading