50 Orang Kongo Dijatuhi Hukuman Mati, Ini Kasusnya!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
30 January 2022 09:45
Warga Kongo evakuasi mandiri pasca letusan gunung Nyiragongo. (AP/Justin Kabumba)

Jakarta, CNBC Indonesia - Republik Demokratik Kongo pada Sabtu (29/1/2022) menjatuhi hukuman mati kepada 50 orang, sehubungan pembunuhan Pakar Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Zaida Catalan dan Michael Sharp pada 2017.

Menurut seorang pengacara pembela dalam kasus tersebut, di antara 50 orang terdakwa dijatuhi hukuman mati dengan skema in absentia.


Dalam perkara pidana, in absentia adalah konsep dimana terdakwa telah dipanggil secara sah dan tidak hadir di persidangan tanpa alasan yang sah, sehingga pengadilan melaksanakan pemeriksaan di pengadilan tanpa kehadiran terdakwa.

Seorang pejabat imigrasi setempat termasuk di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati sementara seorang kolonel tentara dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, kata Tresor Kabangu, yang mewakili beberapa terdakwa dalam persidangan.

Padahal Kongo telah menerapkan moratorium hukuman mati sejak 2003 sehingga mereka yang dihukum akan menjalani hukuman seumur hidup.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan penyelidik telah mengabaikan potensi keterlibatan pejabat tingkat tinggi, dan keluarga Catalan dan Sharp. Mengatakan mereka tidak percaya dalang utama telah dibawa ke pengadilan.

Catalan merupakan seorang warga asal Swedia dan Sharp warga negara Amerika Serikat (AS). Mereka diketahui menjadi korban kekerasan antara pasukan pemerintah dan milisi di wilayah Kasai Tengah pada Maret 2017.

Saat itu, dikabarkan mereka dihentikan di sepanjang jalan oleh orang-orang bersenjata, dipaksa untuk berbaris di lapangan, dan dieksekusi.

Para pejabat Kongo menyalahkan pembunuhan itu pada milisi Kamuina Nsapu. Mereka awalnya menyangkal ada agen negara yang terlibat tetapi kemudian menangkap kolonel dan beberapa pejabat lain yang mereka katakan bekerja dengan pemberontak.

Setelah persidangan hampir lima tahun yang ditandai dengan penundaan berulang dan kematian beberapa terdakwa dalam tahanan, pengadilan militer di kota Kananga memberikan putusannya pada hari Sabtu.

Di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati adalah Thomas Nkashama, seorang pejabat imigrasi setempat yang bertemu dengan Catalan dan Sharp sehari sebelum misi fatal mereka, kata Kabangu kepada Reuters. Yang lainnya diduga anggota milisi.

Kolonel Jean de Dieu Mambweni, yang juga bertemu dengan Catalan dan Sharp sebelum misi mereka, dijatuhi hukuman 10 tahun, kata Kabangu.

Sejumlah terdakwa divonis in absentia karena mereka tidak pernah ditangkap atau melarikan diri dari tahanan.

Adik Catalan, Elisabeth Morseby, mengatakan setelah putusan bahwa kesaksian dalam kasus itu diragukan keandalannya mengingat berapa banyak waktu yang dihabiskan para terdakwa bersama-sama di penjara dan mengatakan hukuman Mambweni adalah tabir asap.

"Agar kebenaran terungkap, semua tersangka, termasuk yang lebih tinggi dalam hierarki, perlu di tanya. Hal itu yang belum dilakukan," katanya kepada Reuters, dikutip CNBC Indonesia, Minggu (30/1/2022).

Ibu Sharp, Michele, mengatakan dia senang beberapa pelaku dimintai pertanggungjawaban, tetapi bertanya-tanya siapa yang memberi perintah. "Pasti seseorang di eselon atas kekuasaan. Kami menunggu perkembangan lebih lanjut," ujarnya.

Sayangnya, Kepala Jaksa Militer Kongo tidak bisa dimintai komentarnya. Jaksa sebelumnya mengatakan bahwa mereka mengikuti bukti yang ada.

Menteri luar negeri Swedia, Ann Linde, mendesak pihak berwenang Kongo untuk bekerja sama dengan mekanisme PBB yang terlibat dalam penyelidikan untuk menyoroti masalah ini lebih lanjut.

"Penting bahwa penyelidikan mengenai orang lain yang terlibat terus mengungkap kebenaran dan membawa keadilan," ujar Linde pada akun Twitternya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Astaga! Ada 'Bisnis Covid' di Negara Ini, Bawa Dana IMF


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading