Kabar Baik! Vaksin Covid Booster Semprot Lagi Disiapkan

News - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
29 January 2022 18:30
A lab assistant holds a blood sample to be tested for COVID-19 antibodies, Tuesday, April 28, 2020, at Principle Health Systems and SynerGene Laboratory, in Houston. The company, which opened two new testing locations Tuesday, is now offering a new COVID-19 antibody test developed by Abbott Laboratories. (AP Photo/David J. Phillip)

Jakarta, CNBC Indonesia - Baru-baru ini, Vaksin NDV-HXP-S yang dikembangkan di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di New York City dinilai menjadi sebuah revolusi Vaksin booster yang disemprot melalui hidung, bukan suntikan.

Dengan menggunakan sampel darah dari peserta uji coba, para peneliti menemukan bahwa NDV-HXP-S dapat menginduksi lebih banyak antibodi secara proporsional. Hal tersebut bahkan dapat menetralisir virus dan memiliki lebih sedikit antibodi non-penetral daripada vaksin mRNA, Moderna (MRNA.O) atau Pfizer (PFE.N) dan BioNTech.

"Vaksin NDV-HXP-S menginduksi respons antibodi penetralisir terhadap tipe liar (asli) SARS-CoV-2 yang cocok dengan apa yang kita lihat setelah vaksinasi mRNA, tetapi proporsi antibodi penetral dalam respons lebih tinggi untuk NDV-HXP-S ," kata salah satu peneliti, Florian Krammer, dikutip dari Reuters, Sabtu (29/1/2022).


Tidak hanya itu, vaksin tersebut bahkan dapat diproduksi seperti vaksin flu dengan biaya rendah di pabrik pembuatan vaksin influenza di seluruh dunia.

Saat ini, uji klinis awal dengan versi langsung sedang berlangsung di Meksiko dan Amerika Serikat, sementara versi tidak aktif sedang diuji di Vietnam, Thailand dan Brasil. Sedangkan uji coba tahap menengah dari vaksin yang tidak aktif juga telah diselesaikan dan uji coba acak yang penting sedang direncanakan.

Segala uji coba tersebut menggunakan strategi "Prime and Spike" dengan menguji vaksin semprot tersebut pada tikus dengan kekebalan yang berkurang setelah dua dosis suntikan Pfizer/BioNTech.

NDV-HXP-S yang dimurnikan terbukti secara kuat meningkatkan tanggapan kekebalan lini pertama dan kedua terhadap virus di hidung, paru-paru dan darah dan melindungi dari dosis virus yang mematikan.

Selanjutnya, tikus memiliki viral load yang lebih rendah dari perkiraan, yang kemungkinan akan mengurangi penularan.

"Strategi ini kemungkinan akan memberikan memori yang tahan lama dan lintas-reaktif yang dapat dengan cepat distimulasi kembali untuk mencegah penyebaran virus," kata pemimpin studi Akiko Iwasaki dari Universitas Yale menjelaskan di Twitter.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Abai Prokes, Ada 997 Orang Positif Covid Hari Ini!


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading