Tertekan Pandemi, Pengusaha Bunga pun Jadi Petani Sayur

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
28 January 2022 14:10
Pedagang bunga hias menata tanaman bunga di kawasan Kemang,  Jakarta,  Senin (26/11/2018). Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura tengah berupaya meningkatkan volume ekspor tanaman hias ke berbagai negara. Indonesia memiliki 173 jenis tanaman hias dengan ribuan jenis varietas yang berpotensi tembus pasar Eropa.  (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Efek domino pandemi covid-19 juga menular ke bisnis tanaman hias. Bahkan, pengusaha bunga terpaksa harus banting setir jadi petani sayuran.

"Ya, sebagian perusahaan bisa bertahan, tetapi sayangnya para petani bunga banyak yang beralih ke tanaman sayuran. Tapi, sekarang saya dengar beberapa sudah balik lagi, tanam kembang lagi," kata Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) Hesti Widayan kepada CNBC Indonesia, Kamis (27/1/2022).

Hal itu dibenarkan Dewan Penasihat Asbindo, Glenn Pardede. Alih bisnis itu pun turut berdampak pada peningkatan benih sayuran dan naiknya produksi sayuran daun di Indonesia.


"Tahun 2020/2021 itu pasar bunga habis. Banyak teman-teman di daerah Jawa Timur beralih jadi petani sayur. Saat pandemi orang kan mana mau spending untuk bunga. Akhir pertengahan tahun 2021 keadaan membaik. Terbukti, tahun lalu saya beli mawar susah dan kualitasnya jelek, sekarang sudah lebih bagus. Tahun lalu mereka lebih memilih produksi sayuran daripada bunga," kata Glenn yang juga Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo) kepada CNBC Indonesia, Selasa(25/1/2022).

Hesti menuturkan florikultura mencakup bunga potong segar, daun potong, tanaman hias berbunga ataupun berdaun indah, serta tanaman lanskap (tanaman taman).

"Pada awal pandemi di tahun 2020, penjualan bunga potong dan daun potong merosot drastis hingga sekitar 70%. Tidak ada satupun jenis bunga potong maupun daun potong yang bertahan mendominasi pasar baik ekspor maupun dalam negeri. Semua mengalami nasib yang sama, jadi kompos," ujar dia.

Sebab, pembatasan ketat aktivitas sosial dan ekonomi menyebabkan kegiatan berkumpul dilarang, termasuk resepsi pernikahan. Kegiatan itu banyak yang menggunakan bunga untuk dekorasi. Dimana, bunga potong dan daun potong banyak digunakan untuk rangkaian bunga oleh florist maupun dekorator.

Sebaliknya, untuk tanaman hias justru mengalami booming dengan kenaikan harga yang fantastis.

"Mungkin masih ingat dengan monstera andasonii atau janda bolong yang sangat populer kala itu. Tahun 2021, kondisi berangsur membaik seiring dengan diperbolehkannya menggelar acara pernikahan digelar meski dengan pembatasan ketat. Pada saat yang sama booming tanaman hias pun berangsur mereda, saatnya masyarakat memelihara tanaman hias yang sudah dibeli tahun lalu," kata Hesti.

Ilustrassi Penjual Tanaman Hias (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Ilustrassi Penjual Tanaman Hias (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Ilustrassi Penjual Tanaman Hias (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)


Meski omzet anjlok dalam, Hesti mengatakan, tidak ada PHK yang terjadi di bisnis tanaman hias. Pengusaha, kata dia, memilih efisiensi dengan mengurangi pembelian pestisida maupun jam kerja.

"Intinya, mengurangi biaya produksi," ujarnya.

"Saat ini awal 2022 kondisi belum normal 100%, mungkin perlu waktu yang cukup lama untuk kembali normal seiring dengan selesainya pandemi. Sulit berharap dalam situasi pandemi karena kami semua mengerti jika ada pengetatan PPKM untuk kebaikan semua. Sangat sulit memprediksi demand saat situasi seperti sekarang. Kalau rem darurat, tidak boleh ada acara pernikahan, hanya boleh di KUA saja," kata Hesti.Tahun 2022, pengusaha tanaman hias tidak memiliki harapan muluk. Apalagi, dengan kembali melonjaknya kasus Covid-19 akibat penyebaran Omicron.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cantik Wajahnya, Hati-Hati 7 Tanaman Hias Ini Beracun!


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading