Mal Legendaris DKI Bertumbangan: Blok M Hingga Ambassador

News - redaksi, CNBC Indonesia
26 January 2022 06:35
Petugas kebersihan mengepel lantai di kawasan mall Ambassador, Jakarta, Selasa, 25/1/2022. Pandemi Covid-19 telah membuat industri ritel, terutama pusat perbelanjaan sulit untuk bangkit. Mutasi baru varian Covid-19 yang terus menerus muncul membuat orang kini lebih memilih untuk tidak bepergian. Akibatnya, mal-mal di DKI Jakarta seperti di kawasan Mall Ambassador Jakarta Selatan Di mana pusat perbelanjaan tersebut kebanyakan berisi pedagang elektronik, seperti handphone, laptop, kamera, serta aksesoris lain. Kini harus menghadapi kenyataan sepi pengunjung. Banyak kini kios-kios di sejumlah pusat perbelanjaan di DKI Jakarta dijual atau disewakan.
Saat CNBC Indonesia menyambangi Mal Ambassador yang kebanyakan berisi pedagang elektronik, ada beberapa toko yang tutup di lantai 3. Terlihat pada gerai toko itu terpampang selembaran info bahwa toko tersebut hendak dijual ataupun disewakan. Meskipun pembeli terlihat cukup ramai di lantai dasar. Salah satu pedagang, Bjeh mengatakan bahwa tutupnya beberapa toko ini, karena jarangnya pembeli. Oleh karenanya pedagang harus rela meninggalkan tokonya tersebut. Berdasarkan pengamatan CNBC Indonesia, memang banyak gerai yang dijual hingga dikontrakkan ke penyewa yang berminat. Namun, itu bukan perkara mudah karena banyak pelaku usaha yang menahan dana untuk tidak berinvestasi di pusat perbelanjaan. Menanggapi fenomena mal-mal legendaris di Jakarta yang sepi, Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah mengungkapkan, banyaknya tenant atau penyewa menutup gerai disebabkan ekosistem ekonomi di mal itu sudah tidak lagi bergairah. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah mal legendaris di DKI Jakarta menjadi korban efek domino pandemi Covid-19. Munculnya varian-varian baru virus Corona menyebabkan minat beraktivitas ke pusat perbelanjaan pun turun drastis. Akibatnya, mal-mal legendaris di sejumlah titik di Jakarta terkena imbasnya dan sulit bangkit. Pasalnya, pusat perbelanjaan maupun ritel seyogyanya mengandalkan mobilitas orang.

Mal-mal legendaris di DKI Jakarta seperti di kawasan Blok M hingga Plaza Senayana, Plaza Semanggi ke Kuningan City hingga Lotte Avenue, kini harus menghadapi kenyataan sepi pengunjung. Banyak kini kios di sejumlah pusat perbelanjaan di DKI Jakarta dijual atau disewakan. 

Terbaru, fenomena sepinya mal hingga seperti kuburan pun menular ke mal legendaris lainnya Mal Ambassador. Bahkan ke lokasi yang sedikit menjauh dari jantung Jakarta, Serpong. Mal-mal itusepi bak kuburan dan kini diisi kios-kios yang banyak tutup.


Pantauan CNBC Indonesia di Blok M Mall akhir tahun lalu, penampakan pengumuman kios disewakan dan menyertakan nomor kontak pemilik kios hal yang biasa. Kondisi ramai penawaran juga terpantau di situs properti daring. Mal pun lengang.

Tidak sedikit pemilik kios di mal kawasan Blok M mengobral dengan harga murah, seperti terpantau di situs jual beli OLX. Tidak tanggung, pemilik pun masih bersedia bernegosiasi harga untuk melego kiosnya.

"Di Jual Murah Banget. Mumpung covid, covid reda harga naik, lapak / counter / tempat usaha, ukuran 2 x 2 meter. Harga 155 juta Nego, Kalo gak Covid harganya bisa mencapai Rp 200 jutaan lebih," tulis penjual.

Ia mengklaim lokasinya strategis di jalan menuju Foodcourt lantai basement Blok M Square, sehingga dilewati pengunjung mall dan karyawan kantoran yang makan di foodcourt tersebut.

Kios ini cocok untuk berbagai jenis usaha, misalnya pulsa, percetakan, sablon, jahit, bordir, batu akik, kacamata, sepatu, fashion, buku, hingga souvenir, namun tidak untuk makanan dan minuman.

Ada lagi, pemilik kios yang lebih membanting harga. Kios yang tadinya dibeli seharga Rp 250 juta, kini bakal dilepas dengan setengah harga atau Rp 135 juta. Harga itu bisa saja masih akan turun lagi karena pemilik ingin segera menjual kiosnya.

"Kios Blok M lt.3A blok B no.90. Cocok untuk usaha toko hp, toko baju, toko alat tulis, kantor, gudang, kantin. Satu lantai dgn Samsat, toko hp, travel. Lantai atas ada foodcourt dan bioskop 21. Lantai bawah ada Carrefour. Jual cepat nego sampe jadi," tulis penjual.

Masalah dan Solusi

Dari catatan CNBC Indonesia, fenomena mal legendaris yang sepi bak kuburan sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2019.

Salah satu penyebabnya adalah peralihan pola belanja dan pola konsumsi. Maraknya toko online disinyalir membuat pergeseran dalam budaya berbelanja masyarakat Indonesia.

Kala itu, pengamat menilai banyak peritel yang kurang mengantisipasi perkembangan zaman yang sedang tren seperti kurangnya inovasi, harga tidak bersahabat sehingga berdampak pada sepinya berbagai pusat perbelanjaan.

Kondisi ini diperparah sejak masuknya Covid-19 ke Indonesia di tahun 2020.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Perbelanjaan Indonesia Alphonzus Widjaja menilai banyak faktor yang memengaruhi tingkat kunjungan ke mal. Salah satunya, efek pembatasan aktivitas di luar rumah karena pandemi.

"Sebagai contoh, masih banyaknya karyawan yang WFH (work from home) akan memengaruhi tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan yang berada di sekitar area perkantoran," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/12/2021).

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah mengungkapkan, banyaknya tenant atau penyewa menutup gerai disebabkan ekosistem ekonomi di mal itu sudah tidak lagi bergairah.

"Tenant itu sewa mal bukan karena lokasi, tapi nyewanya traffic, tugas mal itu mendatangkan traffic," katanya kepada CNBC Indonesia dikutip Minggu (9/1/2022).

Sementara, Staf ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (HIPPINDO) Yongky Susilo menambahkan, pengelola pusat perbelanjaan harus memutar otak untuk menarik kembali pengunjung sertatenant. Caranya bisa dengan membuat berbagai aktivitas yang menarik.

"Aktivasi-aktivasi baru, jangan yang biasa-biasa. Buat solusi-solusi dari pain points pengunjung, kemudian buat area-area Instagrammable," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Sabtu (8/1/22).

Trik itu juga harus dilakukan konsisten hingga menarik kembali para tenant dan pengunjung. Memang memerlukan modal, namun itu investasi yang harus dibayar. Selain itu, biaya tenantdi masa pandemi ini juga perlu penyesuaian, sehingga mereka jadi lebih tertarik.

"Kemudian reposisi malnya, ubah posisi tenant dengan mix. Resto-resto dengan nama baru dan laris," ujar Yongky yang juga Director KADIN Indonesia Trading House.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada Gelombang Ketiga, Pengusaha Mal Masih 'Pede'


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading