2021 in Review

Produk RI Ditakuti Negara Lain, Industri Mulai Berlari Lagi!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
29 December 2021 17:40
Volkswagen export cars are seen in the port of Emden, beside the VW plant, Germany March 9, 2018.  REUTERS/Fabian Bimmer

Jakarta, CNBC Indonesia - Periode 2021 menjadi tahun kebangkitan industri manufaktur di Indonesia. Setelah tahun 2020 lalu hancur lebur tertekan pandemi Covid-19, di tahun ini industri sudah mulai bisa beradaptasi. Bahkan, Pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat industri manufaktur Indonesia bergairah. Aktivitas manufaktur pun mencatat rekor tertinggi.

Pada Senin (1/11/2021), IHSMarkit melaporkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index(PMI) di Indonesia pada Oktober 2021 adalah 57,2. Melesat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52,2 sekaligus menjadi catatan tertinggi sepanjang sejarah.

Angka PMI manufaktur mengukur beberapa sub-indikator seperti pemesanan baru, produksi, penggunaan tenaga kerja, harga, backlog produk hingga permintaan ekspor dan impor.


"Pelonggaran restriksi membuat sektor manufaktur Indonesia tumbuh hingga mencatat rekor baru. Penciptaan lapangan kerja tumbuh positif, kali pertama dalam empat bulan terakhir, sementara pembelian bahan baku naik dan mengukir rekor tertinggi," papar keterangan tertulis IHSMarkit.

Namun yang mendongkrak PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2021, lanjut IHSMarkit, adalah pemesanan baru (new orders). Dunia usaha mengaku permintaan tumbuh dan ekonomi berangsur bangkit karena situasi pandemi virus corona yang semakin membaik.

Tingginya permintaan membuat dunia usaha melakukan ekspansi dengan meningkatkan kapasitas produksi. Hasilnya, lapangan kerja pun tercipta meski belum signifikan.

JingyiPan, Economics Associates Director IHSMarkit, menyatakan kepercayaan diri dunia usaha sudah pulih. Ini terlihat dari peningkatan Future Output Index dan tambahan rekrutmen pekerja.

"Akan tetapi, ada masalah yaitu hambatan di sisi pasokan. Dunia usaha berpandangan tekanan harga akan terjadi. Ini memang bukan sesuatu yang hanya terjadi di Indonesia," sebut Pan dalam keterangan tertulis.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengungkapkan bahwa meningkatnya pertumbuhan industri manufaktur tidak lepas dari angka ekspor.

"Total ekspor nasional untuk industri bernilai US$ 131,13 miliar, berkontribusi 80,3% dari ekspor nasional," kata Agus dalam Power LunchCNBC Indonesia,Jumat (26/11/21).

Adapun dua sektor ekonomi pendorong menanjaknya manufaktur adalah properti serta otomotif. Keduanya mendapat perlakuan spesial dengan adanya relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk otomotif dan relaksasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk properti.

"Keduanya adalah sektor strategis karena punya pendukung industri yang begitu luas, termasuk tier 1, tier 2 dan seterusnya. Keterlibatan UMKM di sektor otomotif juga jadi ikut terbantu," ujar Agus.

Ketika kedua sektor itu bergerak, maka subsektor di bawahnya pun akan ikut bergerak. Meski demikian, Agus tidak bisa menyembunyikan bahwa industri manufaktur juga sempat mengalami tekanan kuat beberapa bulan lalu.

"Ada sedikit gangguan ketika Indonesia menghadapi gelombang 2 delta dimana PMI turun ke 42. Kalau dari 42 bisa rebound ke 57 dalam dua bulan artinya resiliensi sektor industri manufaktur sangat kuat," sebut Agus.

Ketika gelombang kedua kasus Covid-19 di Indonesia terjadi, yakni pada periode Juli lalu, sektor manufaktur pun ikut terkena imbasnya. PMI Manufaktur Indonesia Juli 2021 menurun ke angka 40,1. Salah satu faktornya adalah adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Penurunan PMI Manufaktur ke level 50, menunjukkan terjadinya kontraksi aktivitas sektor manufaktur. Level kontraksi pada Juli merupakan yang pertama kali setelah mencatatkan 9 bulan ekspansi. Bila PMI di atas level 50, artinya geliat industri manufaktur masih tetap ekspansif, tapi saat di bawah itu maka sebaliknya.

PMI Manufaktur Juli yang sebesar 40,1 tersebut menurun dari Juni 2021 yang sebesar 53,5 dan merupakan tingkat penurunan terdalam sejak Juni 2020 yang sebesar 39,1. Walaupun masih jauh dibandingkan PMI Manufaktur saat diberlakukan PSBB pada April 2020 yang sebesar 27,5.

Jika menarik mundur ke awal tahun, Pada Januari 2021, IHSMarkit melaporkan angka PMI manufaktur Indonesia di 52,2. Sementara di bulan Februari lalu angkanya melambat menjadi 50,9. Meloncat ke akhir tahun yakni bulan November, nili PMI Indonesia menempati posisi 53,9. Artinya, meski ada tren naik turun, namun secara keseluruhan awal hingga akhir tahun ada kenaikan.

Tantangan di Manufaktur Otomotif

Salah satu pendorongnya memang ekspor, dimana banyak produk Indonesia ternyata ditakuti oleh banyak negara. Misalnya Vietnam sebagai negara dengan pasar otomotif terbesar kedua bagi Indonesia, bakal memberlakukan standar emisi Euro 5. Kebijakan itu bisa jadi pengganjal bagi industri otomotif yang saat ini masih menerapkan standar emisi Euro 4.

"Negara selalu coba menciptakan technical barrier karena dia ingin industrinya tumbuh. Mereka cari cara itu kan teknikal, tapi kalau kita bisa penuhi kan nggak ada masalah," kata Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/7/21).

Ia juga menyatakan industri dalam negeri sudah bersiap dalam menyesuaikan aturan tersebut. Secara teknologi, pabrikan otomotif sudah memiliki teknologinya dari negara asal untuk diadopsi di Indonesia. Indonesia juga sudah berpengalaman ketika beradaptasi dari Euro 2 ke Euro 4 beberapa tahun lalu.

"Kita kan nggak ingin diganggu, kita harus tetap unggul, kita kan sudah swasembada seluruh kebutuhan bisa dipenuhi, memang ada impor tapi impornya cenderung turun, jumlahnya relatif sedikit tapi secara generik bisa dipenuhi oleh dalam negeri. Mobil menengah atas kita juga bisa ekspor," kata Kukuh.

Vietnam sadar tak mau terus jadi pasar mobil negara lain, termasuk Indonesia. Mereka juga agresif membangun mobil nasional bernama Vinfast. Hambatan ekspor mobil Indonesia ke Vietnam setidaknya sudah dimulai 2018 lalu.

Pemerintah Vietnam menerapkan kebijakan impor mobil completely built up (CBU) dari negara-negara ASEAN. Vietnam menerapkan kebijakan terkait uji tipe dan uji emisi melalui Regulasi No. 116/2017/ND-CP (Decree on Requirements for Manufacturing, Assembly and Import Of Motor Vehicles and Trade in Motor Vehicle Warranty and Maintenance Services).

Produk RI Bersaing dan Ditakuti

Banyak produk Indonesia yang bikin resah negara lain karena dianggap mengganggu pasar. Sebelumnya keramik Indonesia bikin resah Malaysia, juga produk baja Flat Rolled Product of Stainless Steel (FRPSS) yang bikin India mau menghambatnya.

Kini, satu lagiproduk plain medium density fibre board (MDF Board) Indonesia dianggap jadi ancaman oleh dunia usaha di India. Namun, untungnya  usulan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) ditolak oleh pemerintah India.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengapresiasi kebijakan India terhadap produk MDF Board dengan ketebalan di bawah 6 mm dari Indonesia. Keputusan tersebut tertuang dalam Office Memorandum yang dirilis di situs web Directorate General of Trade Remedies (DGTR) pada 20 Juli 2021.

DGTR India merekomendasikan pengenaan BMAD sebesar USD 22,47/CBM-USD 258,42/CBM terhadap produk MDF Board Indonesia pada 20 April 2021. DGTR menilai adanya kerugian material di industri dalam negeri MDF Board India.

"Kami mengapresiasi keputusan yang diambil Pemerintah India. Setelah rekomendasi dari DGTRIndia keluar, kami mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan India, Menteri Perdagangan dan Industri India, serta Sekretaris Kementerian Perdagangan dan Industri India. Dalam surat tersebut, kami menyampaikan sejumlah fakta yang menunjukkan industri dalam negeri MDF Board India tidak mengalami kerugian sebagaimana dimaksud dalam Anti Dumping Agreement World Trade Organization (WTO)," kata Lutfidalam pernyataannya Selasa (27/7).

MDF Board merupakan jenis kayu olahan yang dibuat dari serpihan kayu yang dipadatkan. Pada umumnya, produk ini dijual dalam bentuk lembaran menyerupai papan sebagai pengganti plywood. Nantinya, lembaran ini dapat diolah kembali menjadi sebuah furnitur fungsional, seperti meja, kursi, dan lemari.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor MDF Board Indonesia ke India cenderung melemah dalam lima tahun terakhir. Ekspor MDF Board Indonesia ke India tertinggi terjadi pada 2016 yaitu sebesar USD 7,9 juta. Sedangkan, ekspor MDF Board Indonesia ke India terendah tercatat pada 2020 senilai USD 2,2 juta.

Selain MDF Board, produk lain yang coba dihambat adalah keramik. Malaysia juga terlihat 'ketakutan' dengan produk keramik Indonesia dengan coba membuat hambatan. Namun, upayanya tidak berhasil.

Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia (MITI) secara resmi menghentikan penyelidikan tindakan pengamanan (safeguard) atas produk keramik (ceramic floor and wall tiles) pada 11 Januari 2021. Produk keramik Indonesia sudah bikin resah industri keramik dalam negeri Malaysia karena sangat bersaing di pasar.

Produk keramik yang terbebas dari pengenaan safeguard tersebut ada dalam kelompok pos tarif/HS code 6907.21.21, 6907.21.23, 6907.21.91, 6907.21.93, 6907.22.11, 6907.22.13, 6907.22.91, 6907.22.93, 6907.23.11, 6907.23.13, 6907.23.91, dan 6907.23.93.

"Penyelidikan safeguard ini dihentikan hanya empat bulan setelah dimulai pada 13 September 2020. Otoritas Malaysia memutuskan menghentikan penyelidikan ini atas tiga pertimbangan," kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ternyata Ada Produk Negara Lain Bikin Gemetar Produsen RI


(fys/fys)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading