Studi Menemukan Vaksin Booster Lindungi 75% dari Omicron!

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
11 December 2021 19:00
Omicron sars-CoV-2 memasuki Inggris. (REUTERS/TOM NICHOLSON)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menyatakan suntikan vaksin booster COVID-19 memberikan perlindungan sekitar 70% hingga 75% terhadap penyakit ringan dari varian Omicron. Temuan yang dirilis pada Jumat itu merupakan beberapa data awal tentang perlindungan terhadap Omicron di luar studi laboratorium.

"Perkiraan awal ini harus diperlakukan secara hati-hati. Tetapi varian Omicron menunjukkan bahwa beberapa bulan setelah suntikan kedua, ada risiko lebih besar terkena dibandingkan dengan varian Delta," kata kepala imunisasi di UKHSA Mary Ramsay, dikutip dari Aljazeera, Sabtu (11/12/2021).

"Data menunjukkan risiko ini berkurang secara signifikan setelah vaksin booster. Jadi saya mendorong semua orang untuk mengambil booster mereka saat memenuhi syarat."


Dalam analisis terhadap 581 pasien yang positif Omicron, dua dosis vaksin AstraZeneca dan Pfizer memberikan tingkat perlindungan yang jauh lebih rendah terhadap infeksi simtomatik dibandingkan dari varian Delta. Namun, pada dosis kedua vaksin Pfizer, ada sekitar 70% perlindungan terhadap infeksi simtomatik bagi pasien yang awalnya menerima AstraZeneca, dan sekitar 75% perlindungan bagi yang menerima Pfizer.

UKHSA juga mengatakan, para ilmuwan belum mengetahui seberapa efektif vaksin dalam mencegah penyakit parah pada pasien yang terpapar varian tersebut.

Sementara itu, UKHSA juga mencatat bahwa Omicron lebih mudah menular daripada varian lainnya. Dengan kondisi saat ini, Omicron akan menyumbang lebih dari 50% infeksi COVID-19 pada pertengahan Desember, dengan Inggris melebihi satu juta infeksi pada akhir bulan.

Diketahui, pada Jumat, Inggris melaporkan jumlah infeksi COVID tertinggi sejak Januari, yakni sebanyak 58.194. Sekretaris Komunitas Michael Gove mengatakan negara itu menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan karena Omicron menyebar cepat dengan jumlah kasus berlipat ganda setiap dua hingga tiga hari di Inggris.

"Kami tahu bahwa kami memiliki jumlah infeksi COVID tertinggi di Inggris yang tercatat hari ini sejak 9 Januari," kata Gove.

Dia menambahkan, 30% kasus yang dilaporkan di London sekarang adalah varian Omicron, sedangkan virusnya baru diidentifikasi di Inggris dua minggu lalu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

PGRI: Sekolah Tatap Muka Terhambat Vaksinasi Belum Merata


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading