Internasional

Studi Menunjukkan Mencampur Vaksin Hasilkan Kekebalan 'Super'

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
07 December 2021 20:42
cover topik/dunia berlomba mencari vaksin virus corona dalam/Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penelitian di Inggris menemukan pencampuran vaksin Covid-19 rupanya menghasilkan respons kekebalan yang lebih baik. Studi ini meneliti penerimaan dosis pertama vaksin AstraZeneca atau Pfizer-BioNTech diikuti oleh Moderna sembilan minggu kemudian.

"Kami menemukan respons imun yang sangat baik di seluruh papan..., pada kenyataannya, lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan oleh vaksin Oxford-AstraZeneca dua dosis," Matthew Snape, profesor Oxford di balik uji coba yang dijuluki Com-COV2, kepada Reuters, Senin (6/12/2021).

Temuan pemberian dosis fleksibel akan memberikan harapan bagi negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah untuk penggabungan merek yang berbeda jika persediaan vaksin menipis.


"Saya pikir data dari penelitian ini akan sangat menarik dan berharga bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana mereka masih meluncurkan dua dosis vaksin pertama," kata Snape.

"Kami menunjukkan ... Anda tidak harus kaku untuk menerima vaksin yang sama untuk dosis kedua ... dan bahwa jika program akan disampaikan lebih cepat dengan menggunakan beberapa vaksin, maka tidak apa-apa untuk melakukannya."

Menurut para peneliti di Universitas Oxford, jika vaksin AstraZeneca-Oxford diikuti dengan suntikan Moderna atau Novavax, antibodi yang lebih tinggi dan respons sel T diinduksi dibandingkan dua dosis AstraZeneca-Oxford.

Studi terhadap 1.070 sukarelawan juga menemukan bahwa dosis vaksin Pfizer-BioNTech, diikuti dengan suntikan Moderna lebih baik daripada dua dosis standar Pfizer-BioNTech.

Pfizer-BioNTech diikuti oleh Novavax menginduksi antibodi yang lebih tinggi daripada jadwal Oxford-AstraZeneca dua dosis, meskipun jadwal ini menginduksi respons antibodi dan sel T yang lebih rendah daripada jadwal Pfizer-BioNTech dua dosis.

Selain itu tidak ada masalah keamanan yang muncul, menurut studi Universitas Oxford yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet tersebut.

Sampel darah dari peserta diuji terhadap varian Wild-Type, Beta dan Delta, kata peneliti studi Com-COV2. Mereka menambahkan bahwa kemanjuran vaksin terhadap varian telah berkurang, tetapi ini konsisten di seluruh campuran.

Vaksin yang ada saat ini menggunakan teknologi dari platform yang berbeda, seperti Pfizer dan mRNA Moderna, vektor virus AstraZeneca dan suntikan berbasis protein Novavax, dan dalam jadwal yang sama adalah hal baru. Hasilnya dapat menginformasikan pendekatan baru untuk imunisasi terhadap penyakit lain.

Studi ini dirancang sebagai apa yang disebut studi "non-inferioritas", tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa pencampuran tidak secara substansial lebih buruk daripada jadwal standar. Ini juga membandingkan respons sistem kekebalan dengan respons standar emas yang dilaporkan dalam uji klinis setiap vaksin sebelumnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

PGRI: Sekolah Tatap Muka Terhambat Vaksinasi Belum Merata


(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading