Internasional

Alert! The Fed Beri Warning soal Omicron, Ada Apa?

News - Sef, CNBC Indonesia
30 November 2021 06:43
U.S. Federal Reserve Chairman Jerome Powell holds a news conference following a two-day Federal Open Market Committee (FOMC) policy meeting in Washington, U.S., September 26, 2018. REUTERS/Al Drago

Jakarta, CNBC Indonesia - Varian Covid-19 Omicron dapat memperlambat pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS). Ini meningkatkan ketidakpastian mengenai inflasi.

Hal ini ditegaskan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Sebelumnya, ia secara konsisten mengatakan lonjakan inflasi baru-baru ini bersifat sementara namun mengakui ada faktor-faktor yang mendorong harga di negeri itu lebih tinggi dan berlangsung secara bertahap hingga tahun depan.

Dalam komentar yang disampaikan ke Komite Perbankan Senat AS Senin (29/11/2021), The Fed semakin khawatir tentang lonjakan inflasi yang terlihat kini. Itu memberikan tekanan pada bank sentral untuk menaikkan suku bunga lebih cepat.

"Peningkatan kasus Covid-19 baru-baru ini dan munculnya varian Omicron menimbulkan risiko penurunan terhadap pekerjaan dan aktivitas ekonomi, dan meningkatkan ketidakpastian inflasi," kata Powell, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (30/11/2021).

"Kekhawatiran yang lebih besar tentang virus dapat mengurangi kesediaan orang untuk bekerja secara langsung, yang akan memperlambat kemajuan di pasar tenaga kerja dan mengintensifkan gangguan rantai pasokan."

Gangguan rantai pasokan ini menyebabkan kendala global yang menyebabkan kelangkaan produk. Sementara permintaan terpendam warga akan barang juga berkontribusi pada kenaikan harga.

"Masalah rantai pasokan menyulitkan produsen untuk memenuhi permintaan yang kuat, terutama untuk barang. Kenaikan harga energi dan sewa juga mendorong inflasi ke atas," katanya.

Powell mencatat bahwa inflasi berjalan "jauh di atas" sasaran 2% Fed. Bank sentral melihat lonjakan 5% untuk 12 bulan yang berakhir pada Oktober.

Sementara The Fed menyakini inflasi akan turun secara signifikan selama tahun depan karena ketidakseimbangan penawaran dan permintaan mereda, Namun, Powell mengakui bahwa trennya "sulit diprediksi."

The Fed sendiri berjanji untuk menggunakan semua alat moneter untuk mendukung pemulihan. "Mencegah inflasi yang lebih tinggi agar tidak mengakar," katanya.

Sebelumnya, kenaikan inflasi yang berujung ke kenaikan suku bunga AS bisa berdampak pada keluarnya aliran dana asing dari negara berkembang. Tekanan juga bisa terjadi ke mata uanĂ¡ negara berkembang termasuk rupiah dan kenaikan dollar AS.



[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading