Murkanya Jokowi ke Pertamina dan Reaksi Tegas Ahok

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
27 November 2021 16:00
Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama Saat Mengikuti Pengarahan Presiden Jokowi kepada Komisaris dan Direksi Pertamina dan PLN, 16 November 2021. (Tangkapan Layar via Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pun membenarkan adanya permasalahan disampaikan Presiden Joko Widodo terkait Pertamina.

"Benar sekali (yang disampaikan Jokowi). Setuju dan sependapat," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, dikutip pada Sabtu (27/11/2021).

Sebelumnya, Jokowi murka kepada Pertamina karena banyak masalah yang belum bisa dirampungkan, mulai dari investasi, besarnya impor minyak, hingga lambatnya pembangunan proyek kilang bahan bakar minyak (BBM).


Ahok menyebut akan menyerahkannya ke Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan penilaian dan evaluasi pada manajemen.

"Diserahkan ke Kementerian BUMN untuk menilai dan mengevaluasi manajemen," paparnya saat ditanya apa tindak lanjut Pertamina atas arahan Presiden tersebut.

Diketahui kekecewaan Jokowi disampaikan saat memberikan pengarahan kepada komisaris dan direksi Pertamina dan PT PLN (Persero).

Pengarahan juga dilakukan di hadapan Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Komisaris Utama PLN Amien Sunaryadi, dan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (16/11) lalu.

Beberapa hal yang dikeluhkan Jokowi, di antaranya proses investasi yang berjalan lambat ketika calon investor sudah mengantre untuk bekerja sama, kurangnya transparansi tentang penugasan dari pemerintah seperti penyaluran BBM, serta masih tingginya impor minyak.

Selain itu, tentang proyek baru Kilang BBM baru atau Grass Root Refinery (GRR) di Tuban, Jawa Timur dan Kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang dinilai berjalan lambat.

Jokowi mengungkapkan, di balik awal mula Rosneft ingin berinvestasi bersama Pertamina, namun tak disambut dengan cepat oleh Pertamina. Malah sekarang baru terealisasi sebesar 5%.

"Pertamina sudah bertahun-tahun yang namanya Rosneft di Tuban ingin investasi. Sudah mulai, saya ngerti Rosneftnya ingin cepat, tapi kitanya gak pengen cepat," jelas Jokowi, dikutip dari video yang diunggah kanal YouTube Sekretariat Presiden.

"Ini investasinya besar sekali, Rp 168 triliun, tapi realisasi baru kira-kira Rp 5,8 triliun," lanjut dia.

Jokowi pun menyinggung soal pembangunan ekspansi kilang TPPI yang juga berlokasi di Jawa Timur. Padahal proyek ini sudah dicanangkan sejak dirinya diangkat sebagai presiden kali pertama di 2014.

"Di dekatnya lagi ada TPPI juga sama, investasinya USD 3,8 miliar. Juga bertahun-tahun ini sudah sebelum kita ada, kemudian ada masalah, belum jalan-jalan juga," kata Jokowi.

Di hadapan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, Jokowi bercerita bahwa saat itu ia sampai membentak Dirut Pertamina sebelumnya karena lelet melakukan eksekusi.

Padahal, menurutnya, jika TPPI sudah berhasil dibangun, akan menjadi solusi bagi Indonesia untuk mensubstitusi barang-barang impor, sehingga neraca transaksi Indonesia tidak membengkak.

"Sehingga waktu Bu Dirut (Nicke), saya ke sana yang terakhir, Bu Dirut cerita itu ya saya bentak itu karena memang benar, diceritain hal yang sama gitu lho," ungkapnya.

"Saya nggak mau dengar cerita itu lagi, saya sudah dengar dari cerita dirut-dirut sebelumnya. Saya blak-blakan, memang biasa," kata Jokowi lagi.

Namun, Pertamina bukan hanya menjalankan dua proyek kilang. Ada beberapa proyek kilang minyak lainnya yang sudah dicanangkan Pertamina dan hingga kini memang belum ada yang tuntas.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading