Internasional

Heboh! Inggris-Prancis 'Ribut' Adu Mulut, Kenapa?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
26 November 2021 09:04
The Union Jack flag flies above the Houses of Parliament from the Victoria Tower in London, Thursday, Sept. 12, 2019. The British government insisted Thursday that its forecast of food and medicine shortages, gridlock at ports and riots in the streets after a no-deal Brexit is an avoidable worst-case scenario. (AP Photo/Alastair Grant) Foto: Inggris (AP Photo/Alastair Grant)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Prancis dan Inggris terus bereskalasi. Terbaru, kedua negara panas setelah insiden terbaliknya kapal imigran di Selat Inggris yang menewaskan 27 orang.

Mengutip CNN Internasional, para menteri dari kedua sisi Selat saling menyalahkan satu sama lain, Kamis (25/11/2021). Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson harus berhenti mempolitisasi krisis migran ini untuk kepentingannya semata.


"Dalam panggilan telepon pada Rabu malam, Macron melangkah lebih jauh dan mendesak Johnson untuk berhenti mempolitisasi krisis migran demi keuntungan politik domestik," tulis pembacaan percakapan mereka di Prancis, dikutip Jumat (26/11/2021).

Di sisi lain, Johnson mengatakan pihaknya telah menyiapkan lima langkah untuk diajukan kepada Paris. Ini untuk membendung arus migran yang datang dari Eropa ke Inggris.

"Kesepakatan dengan Prancis untuk mengambil kembali migran yang melintasi Selat melalui rute berbahaya ini akan memiliki dampak langsung dan signifikan," kata Johnson dalam akun Twitternya.

"Jika mereka yang mencapai negara ini dengan cepat dikembalikan, insentif bagi orang-orang untuk menyerahkan nyawa mereka ke tangan para penyeludup manusia akan berkurang secara signifikan," tambah Johnson.

"Ini akan menjadi satu-satunya langkah terbesar yang bisa kita ambil bersama untuk mengurangi arus migran ke Prancis Utara dan mematahkan model bisnis kriminal (penyeludup migran)."

Sejauh ini, kantor kejaksaan Prancis menyebut bahwa kapal yang terbalik itu ditumpangi oleh 17 pria, tujuh wanita, dan tiga remaja. Pihaknya juga menuturkan telah menemukan mayat seorang wanita hamil.

"Mayoritas korban adalah warga Irak," kata Direktur Pelabuhan Calais Prancis Jean-Marc Puissesseau.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Pemerintah Daerah Kurdi di Irak. Pihak berwenang daerah mengaku sedang bekerja untuk menetapkan identitas para korban-korban itu.

Sementara itu, ketegangan antara London dan Paris sebelumnya sudah pernah meruncing tahun ini. Ini diakibatkan sengketa permasalahan hak penangkapan ikan antara kedua negara.

Bahkan, Prancis sempat mengancam akan memotong suplai energinya ke Negeri Ratu Elizabeth. Inggris sendiri mendapatkan gas untuk listrik dari impor.


[Gambas:Video CNBC]

(tps/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading