Internasional

WHO: Orang Terjebak 'Rasa Aman Palsu' Setelah Vaksin Covid

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
25 November 2021 20:02
Infografis/Aduh! Ada Ramalan Enggak Enak Soal Pandemi Dari Bos WHO/Aristya Rahadian Foto: Infografis/Aduh! Ada Ramalan Enggak Enak Soal Pandemi Dari Bos WHO

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 belum berakhir hingga kini. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tidak sedikit orang di dunia yang jatuh ke dalam 'rasa aman palsu' (false sense of security) setelah divaksinasi.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan banyak orang yang sudah divaksinasi berpikir bahwa setelah disuntik mereka tidak perlu tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) seperti mengenakan masker, mencuci tangan hingga menjaga jarak.

"Di banyak negara dan komunitas, kami khawatir tentang rasa aman palsu bahwa vaksin telah mengakhiri pandemi, dan bahwa orang yang divaksinasi tidak perlu mengambil tindakan pencegahan lainnya," kata Tedros dalam jumpa pers di Jenewa, Rabu (24/11/2021).


"Vaksin menyelamatkan nyawa, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan," tambahnya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Tedros memaparkan data bahwa sebelum kedatangan virus corona varian Delta, vaksin mengurangi penularan sekitar 60%. Namun setelah hadirnya varian ini, itu turun menjadi sekitar 40%. Varian Delta kini menjadi dominan di seluruh dunia.

"Kami tidak dapat mengatakan ini dengan cukup jelas: bahkan jika Anda telah divaksinasi, terus lakukan tindakan pencegahan untuk mencegah diri Anda sendiri terinfeksi, dan menginfeksi orang lain yang dapat meninggal," lanjutnya.

"Itu berarti memakai masker, menjaga jarak, menghindari keramaian dan bertemu orang lain di luar jika Anda bisa, atau di ruang yang berventilasi baik di dalam."

'Rasa aman palsu' ini terjadi di banyak wilayah dunia, salah satunya terjadi di Eropa. Direktur kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan bahwa situasi pandemi di Eropa mengalami kemunduran karena adanya peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kasus infeksi dan rawat inap terkait Covid-19.

"Orang-orang di Eropa kembali ke tingkat percampuran sosial sebelum pandemi," katanya. "Kenyataannya adalah virus akan terus menular secara intens di lingkungan itu."

Eropa kembali menjadi pusat pandemi akibat varian Delta, penyerapan vaksin yang lambat di beberapa negara di blok tersebut, cuaca yang lebih dingin, serta pelonggaran pembatasan dan prokes yang mengendur.

Eropa mencatat lebih dari 2,4 juta kasus baru minggu lalu, naik 11% pada minggu sebelumnya. Di Jerman, infeksi naik 31%.

Hingga kini dunia mencatat total 259.881.780 kasus infeksi, dan 5.195.428 kematian, menurut data Worldometers.


[Gambas:Video CNBC]

(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading