Wah, Surplus Dagang RI Terhadap Malaysia Melesat Hampir 200%

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
22 November 2021 10:45
Sejumlah truk bongkar muat melintas di kawasan Tj Priok, Jakarta, Jumat, 11/6. Praktik pungutan liar (pungli) hingga saat ini masih merajalela di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Seperti pengakuan beberapa supir kepada Presiden Joko Widodo, Kamis (11/6/2021), saat kunjungan ke pelabuhan utama Indonesia ini kemarin.
Para pekerja kerah biru ini mengeluhkan, bukan terkait masalah beratnya pekerjaan yang digelutinya, melainkan aksi premanisme juga pungutan liar yang kerap terjadi. Dia berharap, pihak aparat bisa lebih memperketat pengamanan area pelabuhan. Selain itu, pihaknya juga berharap ada transparansi biaya pelabuhan untuk semua aktivitas.

Dari dialog yang dilakukan supir truk dengan Presiden Joko Widodo kemarin, praktik premanisme terjadi saat keadaan jalan sedang macet di mana preman naik ke atas truk, lalu menodongkan celurit kepada supir untuk dimintai uang.

Adapun pungli terjadi di sejumlah depo. Pengemudi truk dimintai uang Rp 5.000 - Rp 15.000 supaya bongkar muat bisa lebih dipercepat pengerjaannya. Jika tidak dibayar, maka pengerjaan bongkar muat akan diperlambat. Hal ini terjadi di Depo PT Greating Fortune Container dan PT Dwipa Kharisma Mitra Jakarta. 
Pantauan CNBC Indonesia dilapangan saat di kawasan JICT tampak jarang hampir tak terlihat himbauan banner stop pungli diarea tempat keluarnya truk.

Suasana dipinggir jalan kawasan Tj Priok arah Cilincing juga tak terlihat para kenek parkir di pinggir jalan semenjak ramenya kasus pungli.

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan nonmigas Indonesia-Malaysia mencatatkan surplus sebesar US$ 3,39 miliar bagi Indonesia selama 9 bulan pertama tahun 2021 jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (192,69%). Adapun total perdagangan Indonesia-Malaysia di periode yang sama pun meningkat 46,43% dibanding tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai US$ 15,05 miliar.

"Surplus perdagangan yang cukup besar ini tentu merupakan capaian yang sangat baik, hal ini seiring dengan peningkatan ekspor berbagai komoditas andalan Indonesia ke Malaysia seperti batu bara, CPO, tembaga, besi dan baja, serta berbagai produk kimia," ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Didi Sumedi seperti dikutip laman resmi Kementerian Perdagangan, Senin (22/11/2021).

Menurut catatan, ekspor nonmigas Indonesia ke Malaysia pada periode Januari-September 2021 mencapai US$ 7,53 miliar, tumbuh hingga 61,7 % dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Duta Besar RI untuk Malaysia Hermono menyebut nilai ekspor tersebut juga merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir

"Lonjakan ekspor yang sangat tinggi ini tentu sangat menggembirakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa permintaan barang dari Indonesia sudah mulai pulih, bahkan meningkat pascapembatasan ketat yang dilakukan Malaysia sejak awal pandemi Covid-19 melanda," ujar Hermono di sela-sela pembukaan Selangor International Bussiness Summit 2021 di Kuala Lumpur, pekan lalu.



Beberapa produk ekspor nonmigas yang naik tinggi antara lain tembaga (265,11%), lemak dan minyak hewan/nabati (164,9%), berbagai produk kimia (112,20%), besi dan baja (65,89%), dan batu bara (50,29%).

Atase Perdagangan RI Kuala Lumpur Deden Muhammad Fajar Shiddiq menyatakan pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia merupakan yang tertinggi di antara sepuluh negara eksportir terbesar ke Malaysia. Indonesia merupakan negara eksportir keenam terbesar ke Malaysia setelah China, Amerika Serikat, Singapura, Jepang, dan Taiwan.

"Mulai dibukanya kembali berbagai kegiatan ekonomi di Malaysia pascapembatasan sosial berkaitan dengan Covid-19 merupakan momentum yang sangat baik untuk terus meningkatkan ekspor nonmigas RI ke Malaysia sampai dengan akhir tahun 2021 ini," kata Deden.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pimpin Delegasi RI di PTM IMT-GT, Ini Pesan-pesan Airlangga


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading