China Lagi Banyak Masalah, RI Ikutan Kena Getahnya

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
20 November 2021 18:20
Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu gunung di workshop sepatu gunung mokzhaware di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Senin (7/6/2021). Bahan yang digunakan terbuat dari bahan baku kulit Nubuck. Dalam sehari pabrik ini bisa memproduksi 50 pasang sepatu. Usmar Ismail (42) mendirikan sebuah brand lokal di bidang fashion sepatu sekitar tahun 2016 lalu. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan para pengusaha untuk bisa bertahan di tengah pandemi covid-19, yang pertama adalah terus melakukan inovasi dan tanggap terhadap kebutuhan market online,

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemulihan ekonomi global dinilai lebih cepat dari ekspektasi pelaku usaha. Sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan perdagangan yang malah membuat banyak masalah, seperti kontainer langka, hingga krisis bahan baku.

Belum lagi Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari produk China terutama bahan baku. Tidak dipungkiri krisis bahan baku akan menjadi masalah berikutnya, kalau negeri panda tidak bisa menjawab permintaan karena krisis energi. Salah satu sektor yang terdampak adalah industri alas kaki.

Director Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan 60% bahan baku alas kaki sudah bisa diproduksi dalam negeri, sementara sisanya masih bergantung dari China, Vietnam dan Eropa. Namun dia mengakui kondisi saat ini membuat pelaku usaha kesulitan mencari bahan baku.


"Ketika mereka terjadi krisis energi, dan gelombang covid kedua, kita mulai kesulitan bahan baku. Begitu juga dari Eropa bergantung juga dari China. Jadi ketika ada barang dari Eropa yang mau masuk Indonesia juga jadi mahal," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (20/11/2021).

Krisis kontainer juga menjadi masalah yang belum selesai. Padahal saat ini permintaan alas kaki sedang melonjak di pasar global. Firman membeberkan data ekspor paling tidak naik 26% dari tahun sebelumnya.

"2020 lalu kita ekspor US$ 4,8 miliar posisi sekarang naik 25%. Belum lagi ditambah rencana investasi baru masuk Indonesia," jelasnya.

Firman membeberkan ada investor bahan baku yang masuk Indonesia, sehingga diharapkan beberapa tahun kemudian Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan baku impor.

"Kita harap tidak lagi bergantung pada impor. Saya harap kita membuka diri buka insentif untuk bahan baku, karena posisinya kita butuh bahan baku dari dalam negeri," katanya.

Wakil Ketua Bidang Manufaktur Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Bob Azam mengatakan tidak hanya sektor alas kaki yang mengalami kelangkaan bahan baku. Namun industri lain seperti kimia, tekstil, otomotif juga kena kasus serupa.

"Seperti tekstil pada komoditi kapas yang melonjak, otomotif juga serupa karena komponen semi konduktor. Karena tahun lalu sempat alokasi semi konduktor itu untuk fokus pada barang elektronik tidak pada otomotif," katanya.

Bob mengingatkan jangan menaruh investasi pada satu tempat. Karena ketika China menghadapi masalah imbasnya besar ke negara-negara yang bergantung.

Namun dari masalah ini diharapkan Indonesia juga mendapatkan berkah dari relokasi pabrik yang ada di China. Ditambah dengan adanya Undang-Undang Ciptakerja yang memudahkan bagi investasi yang masuk ke RI.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Nah Lho Proyek Jalur Sutra China Banyak Mandek, Ini Buktinya


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading