Seberapa Ngeri Hal yang Dicemaskan Jokowi? Ini Jawaban BI

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
20 November 2021 13:30
bi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 memang telah mengubah dunia. Setelah pandemi mulai sedikit mereda, masalah pun tidak selesai begitu saja.

Saat perkembangan kasus positif Covid-19 melandai, berbagai aktivitas pembatasan sosial mulai dilonggarkan. Aktivitas dan mobilitas masyarakat naik, permintaan barang dan jasa pun melonjak.

Meski demikian, di sisi lain pasokan barang belum bisa mengikuti. Dunia usaha belum sepenuhnya pulih lantaran masih terpukul dampak pandemi Covid-19.


Saat permintaan meningkat, dunia usaha tidak bisa begitu saja menambah kapasitas produksi. Ini tercermin dari data aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers Index (PMI) keluaran IHS Markit.

Pada Oktober 2021, PMI manufaktur global tercatat 54,3. Hanya naik tipis 0,2 poin dibandingkan bulan sebelumnya, pertanda ekspansi produksi belum bisa digenjot.

"Ekspansi industri manufaktur dunia berada di laju terlemah selama fase peningkatan dalam 16 bulan terakhir. Output industri terkendala oleh gangguan pasokan bahan baku yang menyebabkan kelangkaan, kenaikan biaya produksi, dan nyaris melumpuhkan arus perdagangan internasional," sebut laporan IHS Markit.

Belum lagi ada masalah baru yakni krisis energi dunia. Kenaikan harga komoditas energi mulai dari batu bara, gas alam, hingga minyak bumi menambah beban biaya produksi.

Mahalnya harga batu bara sempat memukul China, negara eksportir terbesar dunia. Batu bara menyumbang sekitar 60% dari sumber energi primer pembangkit listrik di China.

Saat pasokan batu bara langka dan harganya mahal, ini tentu menyebabkan tekanan inflasi. Berbagai negara kini menghadapi angka inflasi yang tinggi, bahkan ada yang sampai mengukir rekor baru.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, laju inflasi pada Oktober 2021 6,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tertinggi sejak Oktober 1990, lebih dari 30 tahun.

Indonesia pun tidak imun dengan masalah ini. Meski tidak separah AS, ada gejala laju inflasi Tanah Air mulai terakselerasi.

Paman Sam, melalui bank sentral AS (The Fed) pun mulai mengurangi stimulus moneter seiring dengan tekanan inflasi. Federal Reserve akan mulai mengurangi pembelian surat berharga yang sering disebut dengan tapering off.

The Fed pernah melakukan kebijakan ini pada 2013 lalu, dan membuat perekonomian dunia kalang kabut, tak terkecuali Indonesia. Situasi ini, tentu menjadi hal yang perlu diwaspadai ke depan.

Maka dari itu, wajar jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) resah terhadap perkembangan dunia saat ini. Jokowi memandang, dunia dalam kompleksitas masalah yang tinggi yang mau tidak mau harus dihadapi.

"Terus menerus masalah muncul yang mau tidak mau harus dihadapi," kata Jokowi beberapa waktu lalu.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) IGP Wira Kusuma mengemukakan perkembangan ekonomi global memang masih dalam tahap pemulihan.

Namun, fenomena perekonomian dunia saat ini memang tak dapat dihindarkan. Meski demikian, BI masih melihat berbagai tantangan tersebut tidak perlu dilebih-lebihkan.

"Ini bukan sesuatu yang perlu direvisi. Bukan berbahaya, tapi harus diwaspadai," kata Wira dalam Pelatihan Wartawan BI di Hotel JW Marriot, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/11/2021).

Wira mengemukakan BI maupun otoritas terkait akan terus mengantisipasi berbagai tantangan global dengan menyiapkan sejumlah skenario untuk memitigasi dampaknya.

"Yang paling penting adalah kita tau apa yang akan terjadi ke depan dan kita antisipasi. Kita ready," jelasnya.

Lantas, seberapa mengerikan berbagai tantangan global bagi BI? "I think the worst is over," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tenang, Apa yang Dicemaskan Pak Jokowi Cuma Sementara...


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading