Internasional

Peringatan WHO Soal Covid di Eropa Ngamuk Bikin Merinding

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
18 November 2021 19:42
People walk in front of the Reichstag building with the German parliament Bundestag in Berlin, Germany, Wednesday, Nov. 17, 2021. Germany’s disease control agency has reported 52,826 new coronavirus cases as infection rates continue to climb and calls grow for fresh public health measures. The Robert Koch Institute said Wednesday that 294 more people had died in Germany of COVID-19 since the previous day.(AP Photo/Markus Schreiber)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO membunyikan peringatan terbaru soal Pandemi Covid-19 di Eropa. Badan PBB itu menyebut bahwa Eropa menjadi satu-satunya wilayah dunia yang mengalami kenaikan angka kematian akibat Covid-19 saat ini.

Mengutip Straits Times, WHO mencatat bahwa Eropa telah mencatat 28.304 kematian baru dalam seminggu terakhir. Sementara itu, dari 3,3 juta kasus baru Covid-19 yang dilaporkan secara global, 2,1 juta kasus berasal dari Eropa.

"Negara-negara di Eropa dengan jumlah kasus virus corona baru tertinggi adalah Rusia (275.579), Jerman (254.436) dan Inggris (252.905)," kata laporan WHO dikutip Kamis, (18/11/2021).


Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengaku bahwa ini merupakan tanda-tanda bahwa masyarakat dunia harus tetap mematuhi protokol kesehatan meski telah menerima vaksin.

"Ini adalah pengingat lain, seperti yang telah kami katakan berulang kali, bahwa vaksin tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan pencegahan lainnya", kata pria asal Ethiopia itu.

"Vaksin mengurangi risiko rawat inap, penyakit parah, dan kematian, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan".

Para pemimpin Eropa pun memperkuat sikapnya pada orang-orang yang enggan divaksinasi di benua itu. Bahkan sejumlah langka isolasi akan dilakukan karena gelombang serangan Covid-19 yang makin mengkhawatirkan seiring masuknya musim dingin di kawasan tersebut.

Austria muncul lebih dulu sebagai negara yang me-lockdown penduduk yang enggan divaksin sejak Senin (15/11/2021). Hal yang sama juga akan dilakukan Jerman kepada orang-orang yang belum diinokulasi secara nasional.

Jika disetujui parlemen, Jerman sendiri akan mengharuskan orang-orang memberikan bukti vaksinasi atau tes negatif untuk menggunakan kendaraan umum, baik itu bus ataupun kereta api. Negara itu kini memperluas sistem "3G", yang memaksa warga menunjukan bukti vaksin untuk memasuki tempat-temnpat public dengan pengaturan tertentu.

"Lockdown untuk yang tidak divaksinasi," kata wakil pimpinan Partai Hijau Robert Habeck menilai aturan itu sebagaimana dikutip CNN International dari ARD.

Sementara itu, negara-negara Eropa lain mengadopsi langkah mempercepat booster. Inggris misalnya mulai mengkampanyekan suntikan ketiga Covid-19 itu sebagai 'vaksinasi penuh'.

"Sangat jelas bahwa mendapatkan tiga suntikan, mendapatkan booster, akan menjadi fakta penting. itu akan membuat hidup Anda lebih mudah dalam segala macam cara, dan kami harus menyesuaikan konsep kami tentang apa yang dimaksud dengan vaksinasi penuh. karena itu," kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada konferensi pers.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Eropa 'Kaya' Vaksin Tapi Covidnya Meledak, Ini Biang Keroknya


(tps/tps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading