Luhut: Tak Ada Negara Maju Mau Negara Berkembang Ikut Maju!

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
17 November 2021 15:10
Luhut Binsar Pandjaitan

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut ada tekanan dalam upaya menjadikan Indonesia negara maju. Terutama dari negara-negara maju di Eropa.

Hal ini diungkapkan Luhut dalam acara webinar Investment of Electric Vehicle in Indonesia, Intelligent Transport System (ITS) Indonesia, Rabu (17/11/2021).

"Dari pengalaman saya tidak ada negara maju mau negara berkembang ini ikut maju. Mungkin agak sinis, tapi menurut saya yes. Karena kita ekspor ke Eropa nikel ore itu cuma 2%. Tapi mereka yang paling ngotot bawa kita ke WTO," katanya.


Luhut menjelaskan Indonesia berpotensi menjadi hub global supply chain untuk mobil listrik, karena punya sumber daya mineral yang besar. Namun dari pengembangan yang dilakukan harus dilakukan secara hati-hati supaya tidak melanggar ketentuan dari World Trade Organization (WTO).

"Karena negara maju menggunakan WTO ini untuk menyerang kita," katanya.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan RI ini menyinggung pentingnya pengembangan energi baru terbarukan (EBT), karena produk hasil industri dituntut berasal dari ekosistem ramah lingkungan.

"Ini harus jadi perhatian kita semua di 2030, Eropa mau produk kita disuplai dari EBT, misalnya alumunium bisa kena pajak sampai US$ 1.600 dollar kalau nggak pakai EBT nanti," katanya.

Saat ini pemerintah juga sedang mengembangkan kawasan industri hijau di Kalimantan Utara, karena listrik yang dihasilkan banyak dari listrik hijau, terutama dari hydro power dan solar panel. Dari catatannya permintaannya pada kawasan itu diprediksi mencapai 70 giga watt, namun hasil produksi baru mencapai 30 giga watt.

"Jadi nanti banyak orang banyak itu membangun industrinya disana,"katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading