5 Broker Asing Nyerah, Hengkang dari RI karena Alasan Ini

News - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
13 November 2021 21:00
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

3. Deutsche Sekuritas Indonesia

BEI resmi mencabut SPAB PT Deutsche Sekuritas Indonesia yang berlaku sejak 17 April 2020. Deutsche Sekuritas mendapatkan SPAB bernomor 236/JATS/BEJ.ANG/12-2024, tanggal 9 Desember 2004 dengan kode perdagangan DB dan nomor registrasi 239.

Pada Juli 2019, Deutsche mengajukan rencana pengunduran diri sebagai salah satu Anggota Bursa (AB). Pengunduran diri ini sejalan dengan langkah restrukturisasi massal yang dilakukan oleh induk usahanya Deutsche Bank Group.


Dengan selesainya proses ini, maka kursi AB milik Deutsche dikembalikan kepada bursa dan memperoleh pengembalian sesuai dengan harga nominalnya. Adapun kursi AB tersebut bisa dijual atau dilelang kepada pihak lain atau sekuritas lain yang ingin menjadi anggota bursa (pemegang saham BEI).

Sebelumnya Deutsche Sekuritas yang dipimpin oleh Modestus Reggy Melhen Susanto, mantan jurnalis The Jakarta Post dan bekas analis Panin Sekuritas dan Macquire Group ini mencatat deretan pemegang saham perusahaan yakni DB International (Asia) Limited 14%, Elisabeth Tanzil 1%, dan Deutsche Asia Securities Pte Ltd 85%.

Hengkangnya sekuritas ini sejalan dengan langkah restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan oleh Deutsche Bank AG. Bank asal Jerman ini memutuskan untuk menghentikan bisnis trading saham dan memangkas 18.000 karyawan sampai dengan 2022 nanti.

Hal itu dilakukan lantaran Deutsche Bank AG terus mengalami kerugian menahun dan memutuskan untuk merampingkan bisnisnya. Sehingga, bank ini hanya berfokus untuk melayani perusahaan di Eropa dan nasabah ritel.

4. Nomura Sekuritas Indonesia

Nomura Sekuritas Indonesia adalah perusahaan efek patungan yang didirikan pada 11 Desember 1989. Broker dengan kode FG ini memiliki izin usaha sebagai penjamin emisi efek (underwriter) dan brokerage.

Pada 19 Juli 2019 lalu Nomura mengurangi aktivitas bisnis, terutama perantara perdagangan efek (brokerage) di Indonesia. Nomura Sekuritas Indonesia, pun sudah tidak lagi muncul di laman Profil Anggota Bursa.

Mengacu pada laporan keuangan kuartal I 2019, saham perusahaan dipegang mayoritas oleh Nomura Asia Pacific Holdings Co Ltd 80,8% yang berbasis di Jepang, sisanya dimiliki oleh Nomura International (Hong Kong) 11,4%, Nomura Holdings Inc 4,2%, PT Jan Darmadi Investindo 3%, dan PT Santinilestari Lokaprima 0,6%. Sementara per akhir Maret 2020, komposisi pemegang saham perusahaan mengalami perubahan.

Nomura Securities Singapore Pte Ltd menguasai 96,4%, kemudian PT Jan Darmadi Investindo memegang 3,0%, dan PT Santinilestari Lokaprima sebesar 0,6%.

Menurut penjelasan di laporan keuangan Nomura, terdapat peralihan 241.000 saham dengan nominal Rp 241 miliar milik Nomura Asia Pacific Holding Co Ltd, Nomura International (Hongkong) Ltd, dan Nomura Holding Inc kepada Nomura Securities Singapore Pte Ltd pada 20 Desember 2019.

Adapun Jan Darmadi Investindo adalah perusahaan entitas induk terakhir (ultimate parent) dari emiten properti PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) atau JSI sebagaimana tercatat dalam laporan keuangan JSI per Maret 2019.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading