Adidas Tiba-Tiba Pangkas Proyeksi Penjualan 2021, Ada Apa?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
10 November 2021 20:36
An Adidas sign is seen before the company's annual news conference in Herzogenaurach, Germany March 14, 2018. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan pakaian olahraga asal Jerman, Adidas memangkas proyeksi penjualan dan laba setahun penuh pada Rabu (10/11/2021). Perubahan ini terjadi pasca hasil kuartal ketiga meleset dari ekspektasi analis.

Adidas melaporkan penjualan kuartal ketiga naik 3% year-on-year (YoY) menjadi 5,752 miliar euro atau setara Rp 94,6 triliun (asumsi Rp 16.440/euro). Sementara laba operasi turun 8,5% menjadi 672 juta euro (Rp 11 triliun).

Jumlah ini meleset dari perkiraan analis rata-rata masing-masing sebesar 5,83 miliar (Rp 95,8 triliun) dan 682 juta euro (Rp 11,2 triliun). Saham Adidas juga turun 4,7% pada awal perdagangan Frankfurt.


CEO Kasper Rorsted mengatakan bahwa ada perbedaan antara lingkungan pasar di Asia dan Eropa dan Amerika, di mana penjualan terus tumbuh.

"Pertumbuhan dua digit di dunia bagian barat dan penurunan dua digit di Asia, terutama karena dampak corona yang masih berlangsung, dan kemudian juga ketegangan politik," katanya, dikutip dari CNBC International.

"Jadi kita harus berharap bahwa sampai kita memiliki rilis corona (pembatasan) di Asia, kita tidak akan pulih sepenuhnya. Namun, di mana kami melihat pengaturan yang agak normal, kami mengalami dua digit dan perdagangan sebagai perusahaan di atas level (2019)."

Pabrik-pabrik di Vietnam, pemasok utama industri alas kaki dunia, tutup hingga 11 minggu karena wabah Covid-19. Merek saingan Adidas, Puma, telah memperingatkan bahwa kemacetan pasokan artinya mereka bisa kekurangan produk hingga tahun 2022.

Adidas mengatakan pasar di China, juga penguncian Covid-19 di kawasan Asia-Pasifik dan gangguan rantai pasokan telah memangkas pertumbuhan pendapatan sekitar 600 juta euro pada kuartal ketiga.

Penjualan turun 15% di Tiongkok Raya karena pembaruan pembatasan pandemi serta situasi geopolitik, menurut perusahaan itu.

Adidas dan beberapa merek pakaian dari negara Barat juga sempat menghadapi boikot konsumen di China sejak Maret. Fenomena ini muncul pasca pernyataan yang mengatakan mereka tidak akan mengambil kapas dari Xinjiang setelah adanya laporan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur. Sementara pemerintah China membantah melakukan pelanggaran HAM.

Adidas mengatakan masih mengharapkan pendapatan 2021 naik hingga 20%, tetapi sekarang mengharapkan pertumbuhan lebih rendah.

Mereka juga mengharapkan kenaikan margin operasi 2021 antara 9,5% dan 10% dan laba bersih dari operasi yang dilanjutkan sebesar 1,4 miliar hingga 1,5 miliar euro.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kabar Buruk, IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia


(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading