Internasional

Jangan Abai! Covid Lewat, Seperti Ini Ngerinya Ancaman Dunia

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
08 November 2021 17:30
The Dixie Fire burns down a hillside towards Diamond Mountain Rd. near Taylorsville in Plumas County, Calif., on Friday, Aug. 13, 2021. (AP Photo/Noah Berger)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lockdown besar-besaran akibat pandemi Covid-19 rupanya malah memperparah fenomena pemanasan global (global warming). Hal ini disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Melansir The Guardian, dalam laporan WMO mengumumkan tingkat gas pemanasan iklim di atmosfer mencapai rekor tertingginya pada 2020 lalu.

Dikatakan konsentrasi karbon dioksida saat ini mencapai 50% lebih tinggi dibanding saat sebelum Revolusi Industri akibat pembakaran massal bahan bakar fosil. Sedangkan konsentrasi metana telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1750.


Semua komponen gas rumah kaca disebut meningkat lebih cepat pada tahun 2020 daripada rata-rata untuk dekade sebelumnya dan tren ini berlanjut pada 2021.

Kepala WMO Prof Petteri Taalas menyebut kondisi ini telah jauh dari jalur yang ditetapkan. Dia mengharapkan dengan adanya perhelatan ini akan terjadi peningkatan dramatis dalam komitmen negara-negara dunia berkaitan dengan iklim ini.

"Pada tingkat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca saat ini, kita akan melihat peningkatan suhu pada akhir abad ini jauh melebihi target Perjanjian Paris 1,5° C (celcius) hingga 2°C. Ini memiliki dampak negatif yang besar bagi kehidupan dan kesejahteraan kita sehari-hari, dan untuk masa depan anak dan cucu kita," kata Taalas, dikutip Minggu (7/11/2021).

Data tersebut juga menunjukkan krisis iklim terus memburuk dan mengirim pesan 'keras' ke negara-negara yang bertemu di KTT iklim COP26 di Glasgow pekan lalu.

"Kita perlu mengubah komitmen kita menjadi tindakan yang akan berdampak pada gas rumah kaca. Kita perlu meninjau kembali sistem industri, energi dan transportasi dan seluruh cara hidup kita, perubahan yang diperlukan dapat terjangkau secara ekonomi dan memungkinkan secara teknis. Tidak ada waktu untuk kalah," tambahnya.

Menurut Taalas, para negosiator di KTT harus memberikan tindakan untuk mempertahankan komitmen mengakhiri emisi gas rumah kaca pada 2050 mendatang.

Satu-satunya cara untuk menstabilkan gas dan menghentikan kenaikan suhu adalah dengan menghentikan emisi. Sebab, kondisi ini mendorong peningkatan kerusakan dari gelombang panas, banjir hingga kekeringan.

Menurut laporan yang dirangkum oleh WMO melalui Global Atmosphere Watch Programme, pembakaran batu bara, minyak dan gas merupakan sumber terbesar karbon dioksida yang merupakan penyebab 66% pemanasan global. Pada 2020 emisi karbon dioksida turun sekitar 5% karena pembatasan Covid, dibandingkan dengan 2019.

Tetapi, kata WMO, miliaran ton gas ini masih dipompa ke atmosfer, yang berarti perlambatan ekonomi karena Covid-19 tidak memiliki dampak nyata pada tingkat tingkat pertumbuhan gas rumah kaca di atmosfer.

Sekitar setengah dari karbon dioksida dari aktivitas manusia tetap berada di atmosfer, sedangkan setengah lainnya diserap oleh lautan dan pepohonan serta tanaman di darat.

Namun WMO memperingatkan bahwa pemanasan global merusak kemampuan alam untuk menyerap emisi.

Contohnya saat ini hutan hujan Amazon telah beralih dari menyerap karbon dioksida malah mengembalikannya ke atmosfer saat terjadi kebakaran hutan, kekeringan, dan penebangan menghancurkan pohon. Ini menjadi berkesinambungan, sehingga juga dapat menyebabkan perubahan iklim (climate change).

Saat ini tingkat gas rumah kaca lebih tinggi dari yang pernah dialami oleh umat manusia sepanjang masa. Ini merupakan kondisi tertinggi selama 3-5 juta tahun, di mana pada saat itu suhu global 2° C-3° C lebih panas, tanpa ada 7,8 miliar orang, dengan permukaan laut 10-20 meter lebih tinggi dari hari ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid-19 Belum Selesai, Bencana Besar Baru Bakal Meledak


(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading