Beda dengan RI, Australia Janji Tak Tutup Tambang & Stop PLTU

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
08 November 2021 12:23
An undated handout photo of Whitehaven Coal's Maules Creek coal mine in New South Wales, Australia.   Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES

Jakarta, CNBC Indonesia - Australia mengatakan akan tetap menjual batu bara hingga beberapa dekade mendatang, setelah menolak pakta untuk meninggalkan bahan bakar fosil yang berpolusi untuk menghentikan bencana perubahan iklim.

Seperti diketahui, lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia, berjanji untuk mengurangi penggunaan batu bara dalam beberapa dekade selama KTT Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia yang bertujuan untuk membatasi pemanasan Bumi sejak Revolusi Industri menjadi antara 1,5 dan 2,0 derajat Celsius.

Mengutip AFP, Senin (08/11/2021), Australia bersama dengan beberapa pengguna batu bara utama lainnya seperti China dan Amerika Serikat, tidak menandatangani perjanjian yang akan mengurangi penggunaan batu bara tersebut.


"Kami telah mengatakan dengan sangat jelas bahwa kami tidak menutup tambang batu bara dan kami tidak menutup pembangkit listrik tenaga batu bara," kata Menteri Sumber Daya Australia Keith Pitt kepada penyiar nasional ABC, dikutip dari AFP, Senin (08/11/2021).

Membela keputusan Australia, Pitt mengatakan Australia memiliki beberapa batu bara kualitas tertinggi di dunia.

"Dan itulah mengapa kami akan terus memiliki pasar selama beberapa dekade ke depan. Dan jika mereka membeli... yah, kami menjual," tegasnya.

Pitt mengatakan, permintaan batu bara diperkirakan akan meningkat hingga 2030.

"Jika kita tidak memenangkan pasar itu, orang lain yang akan memenangkannya," lanjutnya.

"Saya lebih suka itu menjadi produk berkualitas tinggi Australia, memberikan pekerjaan bagi warga Australia dan membangun ekonomi Australia daripada datang dari Indonesia atau Rusia atau di tempat lain," tuturnya.

Australia adalah salah satu produsen batu bara dan gas alam terbesar di dunia, tetapi juga menderita di bawah kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan yang dipicu oleh iklim yang semakin ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Perdana Menteri Scott Morrison bulan lalu mengumumkan target netral karbon atau net zero emission pada 2050, tetapi rencana itu dikritik karena kurang detail dan sangat bergantung pada terobosan teknologi yang belum diketahui.

Dewan Mineral Australia, yang mewakili penambang besar seperti BHP dan Rio Tinto, mengatakan target 2050 dapat dicapai melalui investasi yang signifikan dalam teknologi.

Pitt mengatakan sekitar 300.000 pekerjaan warga Australia bergantung pada sektor batu bara. Dewan Mineral Australia sendiri mengatakan industri batu bara secara langsung mempekerjakan 50.000 pekerja, dan juga mendukung 120.000 pekerjaan lainnya.

Kelompok pertambangan besar seperti BHP mengatakan, mereka akan keluar dari bisnis bahan bakar fosil yang paling berpolusi ini.

Dalam divestasi terakhirnya, BHP mengumumkan hari ini, Senin (08/11/2021) bahwa mereka telah menjual 80% sahamnya di sebuah tambang batu bara metalurgi di negara bagian Queensland bagian timur kepada Stanmore Resources setidaknya senilai US$ 1,2 miliar.

"Ketika dunia mengalami dekarbonisasi, BHP mempertajam fokusnya untuk memproduksi batu bara metalurgi berkualitas tinggi yang dicari oleh pembuat baja global untuk membantu meningkatkan efisiensi dan menurunkan emisi," kata Kepala Pertambangan Australia BHP, Edgar Basto, dalam sebuah pernyataan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

46 Negara Mau Keluar dari Batu Bara, Tapi Sang Raksasa Ogah!


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading