Siap-siap, 'Raja Gula' Dubai Bakal Investasi Rp 28 T di RI

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
08 November 2021 09:09
Dok foto: https://alkhaleejsugar.ae/

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan sejumlah calon investor potensial di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), salah satunya yakni Al Khaleej Sugar Co (AKS).

Menperin mengatakan produsen terbesar gula di kawasan Timur Tengah dan lima besar dunia itu berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

"AKS akan berinvestasi pabrik gula terintegrasi di Indonesia. Selain memproduksi gula, AKS juga rencananya memproduki bioetanol dan listrik dari biomassa," ungkap Agus melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (7/11).


AKS bakal menanamkan investasi sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,68 triliun (kurs Rp 14.300/US$) dalam pengembangan etanol di Indonesia.

Investasi asal Dubai itu bakal menjadi pelatuk industri gula nasional yang lebih efisien pada masa depan.

"AKS akan mengembangkan fabrikasi etanol dari gula. Etanol tersebut pun diharapkan dapat menjadi sumber bahan bakar alternatif," ujarnya.

Upaya ini sejalan dengan tren pengurangan emisi karbon, yang membuat sejumlah negara memutar otak untuk mencari sumber energi yang lebih bersih.

Negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Filipina sendiri telah mengembangkan etanol dalam jumlah besar sebagai alternatif bahan bakar fosil. Pemanfaatan etanol dalam energi baru dan terbarukan menjadi satu alternatif untuk pengurangan gas emisi karbon dari sektor transportasi.

Selain sebagai bahan bakar, lanjut Agus, etanol gula dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula rafinasi.

"Dalam konteks ini, impor gula bisa ditekan dan bahkan ke depan berpeluang berkurang sekitar 750.000 ton per tahun," ungkapnya.

AKS disebutkan memiliki pabrik gula di Dubai dengan kapasitas 6.000 ton gula per hari. Selain memiliki pabrik gula di Dubai, AKS juga berinvestasi di Mesir dan Spanyol. Penghasilan AKS per tahun diperkirakan sebesar US$ 14 miliar atau setara dengan Rp 200 triliun.

"Kebutuhan gula nasional sekitar 6,7 juta ton. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi impor gula, di antaranya dengan menyiapkan lahan perkebunan tebu dan mendorong proses transformasi digital. Kehadiran AKS di Indonesia, Insya Allah dapat membantu memenuhi kebutuhan gula nasional," imbuh Agus.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

India Tiba-Tiba Cabut Subsidi Ekspor Gula, Tanda Apa?


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading