Internasional

Ancaman Dunia Selain Covid Makin Nyata, Ini Bukti Terbarunya

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
04 November 2021 16:22
Kondisi udara di India usai festival Diwali. (AP/Altaf Qadri)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman perubahan iklim semakin nyata. Bahkan sebuah riset terbaru memprediksi bahwa emisi Karbon Dioksida (CO2) global akan meningkat pesat pada tahun 2021.

Riset ini dirilis pada Kamis (4/11/2021) di masa KTT Perubahan Iklim COP26 di Glasgow, Inggris. Riset yang dibuat oleh para ahli perubahan iklim itu memperkirakan bahwa lonjakan emisi CO2 di tahun 2021 akan mendekati catatan emisi pada masa pra-pandemi di tahun 2019.


China disebut-sebut akan menjadi negara polutan besar dengan porsi sepertiga emisi global. Di mana hal ini berkaitan dengan pembukaan kembali ekonomi pasca pandemi Covid-19.

"Laporan ini adalah pemeriksaan realitas," rekan penulis Corrine Le Querre, seorang profesor ilmu perubahan iklim di Universitas East Anglia Inggris, mengatakan kepada AFP.

"Ini menunjukkan apa yang terjadi di dunia nyata saat kita di sini di Glasgow berbicara tentang mengatasi perubahan iklim."

Selain itu, penelitian itu juga menunjukkan tingkat emisi pada tahun 2022 mendatang akan melampaui rekor 40 miliar ton yang ditetapkan pada 2019. Ini juga digerakkan oleh pulihnya sistem transportasi global setelah terpukul pandemi.

"Kami tidak dapat mengesampingkan pertumbuhan emisi secara keseluruhan pada tahun 2022 karena sektor transportasi terus pulih," tambah Le Quere.

"Kita pasti mengalami pasang surut selama beberapa tahun ke depan."

Sementara itu, ilmuwan juga memperkirakan bahwa dunia akan mencapai puncak emisi pada 2023 dan 2024 mendatang. Puncak emisi sendiri berarti rekor emisi baru yang mengungguli catatan rekor 40 miliar ton yang ditetapkan pada 2019

"Mungkin kita akan mulai berbicara tentang emisi puncak pada tahun 2023 atau 2024?", kata Glen Peters, direktur penelitian di Pusat Penelitian Iklim Internasional di Oslo dan salah satu penulis laporan tersebut.

Dalam forum COP26 di Glasgow, beberapa negara sendiri sepakat untuk mengurangi emisinya dengan mulai menonaktifkan PLTU berbasis bahan bakar batu bara. Salah satu negara yang setuju adalah Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia akan 'memensiunkan' secara dini pembangkit listrik dengan sumber energi batu bara pada 2040 mendatang. 

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ada yang Lebih Ngeri dari Covid, Ilmuwan-Tokoh Agama Warning!


(tps/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading