Jangan Kaget! Krisis China Beri RI Durian Runtuh

News - Cantika Adinda Putri & Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
23 October 2021 07:00
Ilustrasi bendera China. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kebanjiran untung atas krisis energi yang dialami China dan banyak negara di dunia. Keuntungan tak cuma diperoleh kalangan dunia usaha namun juga pemerintah.

"Sebenarnya ada semacam "blessing in disguisse" dari krisis energi ini karena Indonesia mengambil keuntungan dari peningkatan harga komoditas dan peningkatan permintaan harga komoditas utama," ungkap Ekonom Center of Reformon Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet kepada CNBC Indonesia belum lama ini.


Dalam catatan Yusuf, sektor pertambangan bahkan sudah tumbuh 61% sepanjang Januari-Agustus 2021 dengan lonjakan terbesar dari komoditas batubara. Lebih tinggi dibandingkan dengan industri maupun pertanian.

"Kondisi ini juga yang ikut mendorong pertumbuhan ekspor di sepanjang 2021 ini," jelasnya.

Dampak lainnya adalah penerimaan negara. Khususnya pada kelompok bea keluar dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam (SDA).

"Beberapa pos penerimaan negara seperti bea keluar dan juga PNBP Minerba mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, bea keluar tumbuh 891% pada Agustus, semetara pertumbuhan pertambangan minerba melonjak 87%," terang Yusuf.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa keuntungan ini bisa berbalik jadi ancaman di waktu tertentu. Pemerintah diharapkan lebih antisipatif terhadap berbagai kemungkinan buruk yang muncul ke depannya.

"Dibalik keuntungan tersembunyi, ada risiko tersembunyi jika perekonomian China melambat akibat krisis energi," ujarnya

"Kita tahu bahwa China merupakan pemain utama perekonomian global, perlambatan perekonomian China secara tidak langsung akan ikut memperlambat pertumbuhan ekonomi global termasuk pertumbuhan ekonomi emerging market termasuk Indonesia," tegas Yusuf.

Hal senada juga dikatakan pengamat lain. Salah satu peluang yang bisa didapat oleh Indonesia dari adanya krisis energi ini adalah, adanya peningkatan harga komoditas dan peningkatan permintaan komoditas utama dari Indonesia.

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengungkapkan, adanya permintaan komoditas utama di Indonesia yang melimpah, menjadi salah satu alasan perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari sekitar 3,5% sampai 3,9% menjadi 4% di tahun ini. Kendati demikian, keuntungan ini bisa saja hanya bisa dinikmati Indonesia hingga dua kuartal mendatang.

Di samping adanya krisis energi, di China juga mengalami pelemahan pada bisnis properti. Hal ini yang membuat ekonomi China hanya tumbuh 4,9% pada Kuartal III-2021.

Realisasi pertumbuhan ekonomi China pada Kuartal III-2021 tersebut yang mencapai 7,9% tersebut jauh di bawah ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5% seperti yang diprediksi oleh analis.

Secara sektoral, pertumbuhan produksi industri melambat menjadi 3,1% pada bulan September lalu. Di sisi lain, ritel naik menjadi 4,4%. Untuk pengangguran perkotaan di level 4,9% pada bulan lalu.

Krisis properti yang dialami oleh raksasa Evergrande, disebut masih menjadi biang keladi dari perlambatan ini. Selain itu, krisis energi yang mulai membayangi juga memperlambat output industri.

Melihat fenomena pertumbuhan ekonomi China yang melambat itu, David mengkhawatirkan akan menjadi 'bom waktu' bagi perekonomian di Indonesia.

"Dampak perlambatan ekonomi di China ke Indonesia mungkin bisa saja terjadi. Properti melemah, ada krisis energi, dan mungkin perlambatan dari konsumsi," jelas David.

"Batu bara satu kuartal terakhir juga bukan main meningkat harganya, CPO, mineral-mineral, dan properti track down. Mungkin tahun depan sudah mulai melambat. Kita berharap bisa dikompensasi dari konsumsi dan investasi," kata David melanjutkan.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading