Internasional

Mengenal Pure Beach, Pantai Bikini Wanita di Arab Saudi

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 October 2021 16:05
Beach goers are seen as workers in protective suits clean the contaminated beach after an oil spill, Wednesday, Oct. 6, 2021 in Newport Beach, Calif. A major oil spill off the coast of Southern California fouled popular beaches and killed wildlife while crews scrambled Sunday, to contain the crude before it spread further into protected wetlands. (AP Photo/Ringo H.W. Chiu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di Arab Saudi, ada sebuah tempat di mana perempuan dan laki-laki bisa bersama-sama tanpa batasan. Mereka bisa mendengar musik, menari, bermain air, hingga mengenakan pakaian renang bikini.

Tempat itu ialah Pure Beach. Ini adalah pantai privat yang terletak di King Abdullah Economic City, sekitar 125 kilometer dari kota internasional Jeddah.


Pantai ini memiliki taman terapung yang membentuk tulisan "Arab Saudi" dalam bahasa Inggris, jika dilihat dari atas. Untuk masuk ke sini, tiap orang harus mengeluarkan kocek 300 riyal Saudi atau sekitar Rp 1,1 juta (asumsi Rp 3,772/riyal), untuk menikmati musik dan tarian sekaligus bermain air.

Salah satu warga Arab Saudi, Asma (32), menghabiskan waktu satu hari di pantai tersebut dengan pacarnya. Ia bahkan bisa berdansa dengan pasangannya di atas pasir putih di tepi Laut Merah, diiringi dentuman musik dari pengeras suara.

"Saya senang bahwa saya sekarang bisa datang ke pantai terdekat untuk menikmati waktu saya. Ini adalah lambang kesenangan ... itu adalah impian kami untuk datang ke sini dan menghabiskan akhir pekan yang indah," katanya kepada AFP, mengenakan gaun biru di atas pakaian renangnya.

"Hidup itu normal (di Arab Saudi)," tambah Asma. "Sebelumnya tidak normal."

Terlihat juga pengunjung pantai berenang di perairan pirus, dengan para wanita mengenakan bikini. Beberapa di antaranya merokok shisha. Saat matahari terbenam, para pemain menari mengikuti musik Barat di atas panggung, dengan para pasangan berpelukan di dekatnya.

Pemandangan ini dapat terjadi setelah Arab Saudi yang terkenal sangat konservatif kini berangsur-angsur lebih modern dan terbuka. Pengurangan beberapa struktur sosial yang ketat terjadi berkat modernisasi dan adanya kebebasan berpendapat.

Di banyak negara, ini pemandangan yang biasa. Namun, ini berbeda untuk Arab Saudi, yang menampung situs-situs suci Islam dan mendukung Wahhabisme atau bentuk agama yang kaku.

Dahulu kerajaan Islam sangat mengatur banyak hal, hingga persoalan privasi seperti pakaian individu, terutama kepada kaum perempuan. Bahkan pemutaran musik di tempat umum sempat dilarang hingga tahun 2017 dan pantai biasanya masih dipisahkan antara pria dan wanita.

Perempuan juga baru diizinkan mengemudi sekitar tahun 2018. Selain itu baru dua tahun yang lalu pasangan asing yang belum menikah juga diizinkan untuk berbagi kamar hotel, meski larangan alkohol secara nasional masih berlaku.

Negara ini mengalami perubahan di bawah putra mahkota dan penguasa de facto, Mohammed bin Salman (MBS), yang berkuasa pada 2017. Ia melakukan diversifikasi pada sumber pemasukan negeri itu selain minyak, termasuk dengan merangsang pariwisata dan pengeluaran domestik.

Bilal Saudi, kepala acara di King Abdullah Economic City, mengatakan pantai itu menargetkan "pengunjung lokal dan turis (asing)".


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading