Internasional

Penembakan & Penikaman di Kamp Pengungsi Rohingya, 7 Tewas

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
22 October 2021 14:50
Ethnic Rohingya people rest after the boat carrying them landed in Lhokseumawe, Aceh province, Indonesia, early Monday, Sept. 7, 2020. Almost 300 Rohingya Muslims were found on a beach in Indonesia's Aceh province Monday and were evacuated by military, police and Red Cross volunteers, authorities said. (AP Photo/Zik Maulana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peristiwa penyerangan kembali terjadi di kamp pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar dan Bangladesh, Balukhali, Jumat (22/10/2021). Dalam insiden itu, setidaknya tujuh orang dilaporkan tewas.

"Para penyerang menembak mati beberapa korban dan menikam lainnya dengan pisau," kata seorang kepala polisi daerah kepada AFP.


Empat orang dilaporkan tewas di tempat kejadian. Sementara tiga orang lainnya di rumah sakit.

"Kami menangkap satu penyerang segera setelah insiden itu," kata kepala wilayah batalyon polisi bersenjata, Shihab Kaisar Khan, kepada wartawan

"Pria itu ditemukan dengan pistol, enam butir amunisi dan pisau."

Kekerasan kini semakin terasa di kamp pengungsian yang menampung 900.000 orang itu. Kelompok bersenjata muncul dan bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.

Mereka disebut kerap menculik para kritikus. Kelompok konservatif juga memperingatkan perempuan agar tidak melanggar norma-norma Islam.

Tiga pekan lalu, salah seorang tokoh pemimpin Rohingya, Mohib Ullah, ditembak mati. Ullah sendiri adalah tokoh lembaga Masyarakat Rohingya Arakan untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia.

Ia dikenal dunia lewat dokumentasi kekejaman yang diderita Rohingya selama tindakan keras pemerintah Myanmar. Di kamp-kamp pengungsi Bangladesh, Ullah pergi dari gubuk ke gubuk untuk menghitung pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran guna diberikan ke penyelidik internasional.

Organisasinya bekerja untuk memberikan lebih banyak suara kepada para pengungsi baik di dalam kamp atapun internasional. Sejak ia tewas banyak aktivis bersembunyi karena takut menjadi target pembunuhan.

Sementara itu sejumlah pihak menyalahkan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) atas pembunuhan itu. ARSA adalah kelompok militan di balik serangan terhadap pasukan keamanan Myanmar pada 2017 yang memicu tindakan keras militer dan eksodus massal 740.000 Rohingya ke Bangladesh.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading