Batu Bara Ngamuk, Produk Plastik Bisa Bikin Remuk Konsumen

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
18 October 2021 12:10
Coal piles are seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga batu bara saat ini hingga berkali-kali lipat dari harga normal memukul sektor industri pengguna batu bara hingga berimbas pada biaya produksi sampai ke produk akhir yang harus ditanggung konsumen. Saat ini harga batu bara sudah tembus di atas 200 USD per metric ton, dari sebelumnya hanya 80 USD per metric ton.

Ongkos produksi juga naik akibat kenaikan biaya energi batu bara bakal berdampak pada produk akhir, termasuk pada industri olefin, aromatik hingga plastik salah satu pengguna batu bara. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia Fajar Budiono menyebut hal itu tidak terhindarkan.

"Akan naik seberapa besar (produk akhir) belum dihitung ulang, tapi nggak mungkin di bawah rata-rata. Harga polymer Sekarang masih ada 1200 USD per metric ton, nanti minimal 1300 USD per metric ton. Jadi kenaikannya bisa 100-200 USD per metric ton," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (18/10/21).


Kenaikan tersebut kemungkinan besar bakal membuat harga produk akhir juga ikut terkerek naik. Tren tersebut kemungkinan bakal lanjut hingga akhir tahun, penyebabnya karena bakal memasuki musim dingin sehingga batu bara diprediksi bakal lebih langka. Di sisi lain, permintaan bakal tetap besar.

"PVC (Polyvinyl chloride) sudah naik duluan, rekor diantara polymer paling tinggi karena PVC bahan baku garam dan listrik, rata-rata listrik masih menggunakan batu bara sehingga mau nggak mau naik. PVC naik terus, bahkan September 1500 USD per metric ton di internasional, mungkin sekarang dekat 1600 USD per metric ton," ujarnya.

Seperti diketahui, bahan baku tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan plastik, baik untuk industri makanan hingga minuman, misalnya air minum kemasan hingga snack anak-anak sampai kantong plastik. Jika harga plastik pembungkus naik, maka produk akhir ke masyarakat pun bisa sama. Alhasil, masyarakat yang bakal menanggung kenaikan harga tersebut.

"Polymer lain berkorelasi dengan crude oil, sekarang di atas 80 USD, artinya dengan harga sekarang yang rata-rata 250-1300 USD per metric ton, sebenarnya masih ada kemungkinan naik lagi," ujar Fajar.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading