Bikin Heboh, Progres Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Nyaris 80%

News - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 October 2021 16:30
Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). (Dok: KCIC)

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung saat ini menuai kontroversi di tengah berbagai persoalan antara lain soal pembengkakan biaya hingga berbagai persoalan yang menghadang.

Proyek yang ditargetkan operasi November 2022 ini progres pengerjaannya kini sudah mencapai 79% atau nyaris 80%.

PT KCIC, yang mengerjakan proyek tersebut terus melakukan berbagai upaya percepatan agar target operasional KCJB di akhir tahun 2022 bisa terwujud.


Direktur Utama PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi menyebutkan, saat ini PT KCIC bersama konsorsium kontraktor sedang berfokus untuk melakukan percepatan pembangunan di 237 titik konstruksi secara komprehensif.

Diakuinya, pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 cukup menghambat proses pembangunan KCJB.

"Pandemi cukup memberikan dampak pada progress pembangunan KCJB. Untuk itu fokus kami sekarang ini adalah melakukan percepatan pembangunan," ujarnya, dalam keterangan resmi, Minggu (17/10/2021).

Adapun, titik-titik konstruksi yang menjadi prioritas ke depan antara lain penyelesaian 3 terowongan yang tersisa dari 13 terowongan yang ada di jalur KCJB. Ketiga terowongan prioritas itu adalah tunnel #2 sepanjang 1.040 meter di Jatiluhur, Purwakarta progres tergali 686 meter, tunnel #4 sepanjang 1.315 meter di Plered, Purwakarta progres tergali 1.149 meter, dan tunnel #6 sepanjang 4.478 meter di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat progres tergali 4.204 meter.

Selain itu, PT KCIC sedang mempercepat penyelesaian pekerjaan relokasi SUTT PLN dan erection girder untuk konstruksi elevated track, terutama yang berada di DK 132 dan DK 134 di daerah Batununggal, Bandung, Jawa Barat.

Dwiyana menambahkan, saat ini pekerjaan subgrade 18#, 19#, dan 20# yang berlokasi di perbatasan antara Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta menjadi salah satu titik konstruksi yang dikebut pengerjaan konstruksinya. Selain percepatan pada konstruksi jalur KCJB, PT KCIC juga sedang melakukan percepatan pembangunan Stasiun Kereta Cepat Halim, Karawang, dan Tegalluar.

"Pengerjaan di tiga Stasiun Kereta Cepat di Halim, Karawang, dan Tegalluar juga sedang kami kebut," ungkap dia.

Sedangkan, Electric Multiple Unit (EMU) atau kereta yang akan digunakan ketika operasional nanti, saat ini sedang dalam tahap produksi di pabrik China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Sifang yang berada di Qingdao, Tiongkok. Ini meliputi pembuatan Comprehensive Inspection Train (CIT) atau Kereta Inspeksi yang nantinya akan digunakan untuk pengecekan rutin jalur kereta cepat guna memastikan keamanan dan kehandalan pengoperasian KCJB.

Terkait persiapan operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung, PT KCIC dengan Kementerian Perhubungan saat ini sedang melakukan pembahasan dan harmonisasi Rancangan Peraturan Menteri Perhubungan untuk mendukung pengoperasian KCJB. Di sisi lain, dilakukan juga pelatihan SDM hingga pembuatan SOP sebagai bagian dari persiapan Operation & Maintenance Readiness.

"Dengan semua upaya maksimal yang kami lakukan, diharapkan target pengoperasian KCJB di akhir tahun 2022 bisa tercapai," ujarnya.

Seperti yang diketahui, pada fase pengoperasian awal yang ditargetkan di akhir tahun 2022, Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan menempuh trase sepanjang 142,3 kilometer. Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan melintasi 9 kota dan kabupaten di Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Stasiun keberangkatan sekaligus kedatangan kereta cepat berada di wilayah Jakarta, yakni melalui Stasiun Halim, kemudian melintasi Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang dan berakhir di Stasiun Tegalluar.

Didukung dengan keberadaan Depo di Tegalluar sebagai tempat perawatan dan pemeriksaan EMU, kereta berjenis CR400AF yang memiliki kecepatan desain maksimum hingga 400 km/jam dan kecepatan operasi maksimum 350 km/jam.

Proyek kereta cepat Jakarta Bandung belakangan sempat menjadi sorotan publik lantaran biaya pembangunannya membengkak diperkirakan US$ 2 miliar atau setara dengan Rp 28,6 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$), sehingga total menjadi US$ 8 miliar atau Rp 114,40 triliun. Jumlah ini memang belum final, karena masih dalam proses perhitungan.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading