Internasional

Hii Seram.. Banyak 'Kota Hantu' di China, Kok Bisa?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
15 October 2021 16:50
Vehicles drive past unfinished residential buildings from the Evergrande Oasis, a housing complex developed by Evergrande Group, in Luoyang, China September 16, 2021. Picture taken September 16, 2021. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah laporan terbaru menunjukkan bahwa krisis properti yang terjadi di China telah membuat banyak wilayah baru yang menjadi 'kota hantu'. Pasalnya banyak properti yang gagal terjual di Negeri Panda itu.

Mengutip CNN International,Mark Williams, kepala ekonom Asia di Capital Economics, memperkirakan bahwa China masih memiliki sekitar 30 juta properti yang belum terjual. Jumlah itu dapat menampung 80 juta orang.


"Proyek semacam itu telah menarik perhatian selama bertahun-tahun, dan bahkan dijuluki kota hantu China," ujarnya dikutip Jumat (15/10/2021).

Real estate dan sektor terkait adalah bagian besar dari ekonomi China. Sektor itu menyumbang lebih dari 30% total PDB negara itu.

Namun akhir-akhir ini perkembangan properti di negara itu menurun. Bahkan setelah China rebound dari perlambatan pasca pandemi.

"Permintaan properti residensial di China memasuki era penurunan berkelanjutan," tulis Williams dalam sebuah catatan penelitian.

Selain itu, ada permasalahan baru lagi yang muncul. Sebanyak 90%p roperti baru di China dijual sebelum selesai, yang berarti bahwa setiap kemunduran bagi para perusahaan properti dapat secara langsung berdampak pada pembeli.

"[Ini] memberi otoritas insentif yang kuat untuk memastikan bahwa proyek yang sedang berlangsung terus berlanjut karena pengembang yang gagal direstrukturisasi," tambah Williams.

Hal ini pun membuat beberapa perusahaan properti negara itu goncang seperti Evergrande yang berhutang senilai Rp 4 ribu triliun. Tapi tak hanya Evergrande,12 perusahaan real estat China gagal membayar obligasi dengan total sekitar 19,2 miliar yuan pada paruh pertama tahun ini.

"Ini menyumbang hampir 20% dari total default obligasi korporasi dalam enam bulan pertama tahun ini, tertinggi di semua sektor di daratan China," sebut Christina Zhu, seorang ekonom di Moody's Analytics.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading