Kata Satgas Soal RI Bakal Hidup Damai Bersama Covid-19

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
15 October 2021 13:50
Suasana ruang pasien Covid-19 yang kosong disalah satu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Jakarta, Senin (30/8/2021). Kasus Covid-19 di DKI Jakarta kini mulai terkendali dengan turunnya kasus baru, kasus aktif serta ketersediaan rumah sakit yang mulai menurun. Pantauan CNBC Indonesia dilokasi ruangan kosong terlihat dibeberapa lantai rumah sakit. 
Peti jenazah juga masih tersedia diruang lantai dasar rumah sakit. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - RI bakal hidup damai dengan Covid-19 di masa depan. Protokol kesehatan (Prokes) menjadi kunci menuju normal baru. Langkah persuasif pemerintah juga dilakukan untuk membiasakan masyarakat adaptasi dan taat Prokes dengan menggunakan aplikasi Peduli Lindungi untuk skrining di ruang publik.

Perlindungan kesehatan dari hulu ke hilir juga dilakukan dengan menggencarkan vaksinasi dan testing, tracing dan treatment (3T).

Koordinator Tim Pakar & Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyebut saat ini tingkat kepatuhan masyarakat sudah cukup baik meski masih fluktuatif.

Dia menjelaskan saat penularan rendah, jika terjadi kebobolan Prokes masih akan relatif terjaga. Akan tetapi di tempat tertentu yang sirkulasi virusnya tinggi dan terjadi kebobolan Prokes maka bisa mendongkrak kasus.

"Jadi Prokes tidak bisa ditinggalkan," tegas Wiku dalam Dialog Produktif Forum Merdeka Barat 9, Kamis (14/10/2021).

Menurutnya situasi pandemi tanah air sejauh ini terpantau baik. Per 10 Oktober 2021, tidak ada kabupaten/kota berada pada zona risiko tinggi dan mayoritas pada zona risiko rendah.

Dengan perbaikan situasi Covid-19 di berbagai wilayah, menurut Wiku, relaksasi kegiatan masyarakat secara bertahap dengan persiapan matang, bisa dilakukan. Dalam pelaksanaannya, pemerintah tetap melakukan pengawasan dan peninjauan.

Dengan begitu, jika terjadi peningkatan kasus maka dapat segera dilakukan pengereman. Pemerintah, kata Wiku, telah menerapkan strategi berlapis dengan banyak instrumen di dalamnya.

"Yang juga penting adalah kewaspadaan yang melekat pada masyarakat. Di ruang publik tempat kegiatan, harus ada Satgas Prokes. Dengan demikian aktivitas masyarakat akan diawasi oleh masyarakat juga, sehingga tidak ada ruang untuk terjadi penularan tanpa terdeteksi, dan dapat dicegah lebih awal," ujar dia.

Lebih lanjut dia menyampaikan proses penularan bisa terjadi di tiga titik yakni di tempat tinggal, transportasi, serta tempat aktivitas. Dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas harus dipastikan semua aman dari titik awal hingga kembali.

Dia menegaskan setiap daerah memiliki karakter dan cara berbeda untuk menemukan kapasitas yang paling tepat. "Setelah ditemukan kapasitas yang tepat, maka harus dijaga agar tidak melakukan aktivitas berlebihan," papar Wiku.

Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia memang sudah makin landai. Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan pada Kamis, (14/10/2021) terjadi penambahan 1.053 kasus baru Covid-19. Kasus aktif saat ini sudah berada di bawah 20.000 kasus tepatnya 19.852 kasus.

Sementara itu, Wakil Ketua Gerakan Pakai Masker, Kemal Gani, mengatakan masyarakat pasti mengalami kejenuhan, maka edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan disertai penyegaran dan pendekatan yang menarik.

Selain memanfaatkan media sosial dan radio, pihaknya juga melakukan penyuluhan ke berbagai klaster melalui daring.

"Kami menggarap penyuluhan untuk para penyuluh. Di antaranya ke pesantren, pasar rakyat, ibu ibu PKK, juga anak-anak muda. Pasar Rakyat, karena pedagang masih minim Prokes. Ibu PKK karena peran para Ibu sangat penting dalam disiplin Prokes di rumah tangga," kata dia



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading