Ada Ancaman Seram Selain Covid, Apa Solusinya?

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
14 October 2021 14:04
An aerial view of some freshwater filled sinkholes, known in Spanish as 'cenotes', in the Yucatan peninsula, Mexico, Tuesday, Nov. 30, 2010. During the annual UN Climate Change Conference which is being held in Cancun, Mexico, the World Meteorological Organization said Tuesday the heat waves that killed thousands of people in Europe in 2003 and that choked Russia earlier this year, will appear like an average summer in the future as the Earth continues to warm. (AP Photo/Eduardo Verdugo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Asia disebut-sebut berada di lini terdepan krisis iklim dengan kerugian terbesar yang disebabkan perubahan iklim. Hal ini bisa menjadi ancaman di masa depan setelah krisis pandemi Covid-19.

Analisis terbaru McKinsey, potensi kerugian akibat krisis iklim bisa mencapai US$ 4,7 triliun. Sementara itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim bisa mencapai Rp 115 triliun pada 2024.

Sektor keuangan saat ini telah mendeteksi peningkatan risiko terhadap banjir besar, topan, dan kemarau. Di tingkat global, investasi Environmental, Social and Corporate Governance (ESG) telah mengalami gelombang pertumbuhan di balik pandemi dan memiliki fokus baru pada keberlanjutan.

Di Asia Tenggara, model bisnis yang mengutamakan keberlanjutan, penilaian risiko iklim, dan investasi ESG masih terbilang baru, namun dampak dari perubahan iklim sudah terasa.


Lantas, apakah bisnis di kawasan Asia siap menghadapi tantangan ini?

John Sterman, Director MIT Sloan Sustainability Initiative memandang bahwa Asia masih memiliki harapan.

Sterman yang dalam beberapa dekade mempelajari reaksi dan upaya masyarakat untuk memitigasi perubahan iklim mengatakan bahwa masyarakat masih peduli dengan lingkungan.

"Masalah utamanya adalah orang-orang kewalahan dengan kerumitan dan penundaan yang lama, terutama ketika kita sudah terbiasa dengan hasil yang instan," kata Sterman, dikutip melalui keterangan resmi, Kamis (14/10/2021).

Menurutnya, saat orang-orang dihadapkan dengan konsekuensi yang tampak seperti bencana besar yang tidak memiliki jalan keluar, kebanyakan orang akan berpikir lebih sederhana,

"Kebanyakan orang cenderung meyakinkan diri mereka sendiri bahwa 'masalahnya tidak seburuk itu', 'pasar akan menyelesaikannya', atau 'pemerintah akan menanganinya'," jelasnya.

Sterman mengembangkan kini tengah mengembangkan simulasi En-ROADS and C-ROADS, yang menggunakan analogi bak mandi atau bathtub dan membuat simulasinya tersedia untuk masyarakat luas.

"Kesimpulan dari setiap simulasi selalu sama, yakni bahwa kita semua mempunyai peran, tidak ada peran yang tidak penting. Peserta selalu tampil dengan kekuatan," ujar Sterman.

Prof. John Sterman, Director, MIT
Sloan Sustainability Initiative dan pembicara utama pada konferensi Leadership for Enterprise Sustainability Asia (LESA) 2021 mendatang, berkeyakinan bahwa Asia masih memiliki harapan.

Sterman akan menjadi pembawa acara LESA, yang diselenggarakan oleh Asia School of Business yang berlokasi di Kuala Lumpur, Malaysia.

Acara ini akan menekankan pada urgensi Asia Tenggara dan bisnis dunia berkembang dalam mengambil langkah-langkah penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan memetakan cara baru ke depannya.

Perwakilan dari organisasi Asia terkemuka termasuk Rukaiyah Rafik, Pengelola Sekolah Petani FORTASBI (Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia), Khoon Tee Tan, Senior Partner di McKinsey Company Indonesia, Febriany Eddy, CEO & Presiden Direktur Vale Indonesia (INCO), dan lainnya, akan menjadi pembicara di LESA 2021.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading