Internasional

Cerita Pilu Nakes Singapura di Tengah 'Ledakan' Covid-19

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
14 October 2021 14:10
People take their antigen rapid test under supervision, at a Quick Test Centre during the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, in Singapore September 28, 2021. REUTERS/Edgar Su

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat Singapura sedang belajar hidup berdampingan dengan Covid-19, terjadi ledakan kasus infeksi dan kematian. Rabu (13/10/2021) Negeri Singa melaporkan 3.190 kasus baru infeksi corona yang diiringi oleh sembilan kematian.

Bersamaan dengan terjadinya hal ini, para tenaga kesehatan (nakes) di Singapura semakin tidak dapat melihat akhir dari pandemi. Pasalnya mereka harus bekerja ekstra untuk merawat para pasien Covid-19.


"Sistem perawatan kesehatan tegang secara maksimal sekarang dan akan terus berlanjut," kata seorang dokter junior secara anonim, yang bekerja di sebuah rumah sakit umum di Singapura, dikutip dari Channel News Asia (CNA).

Dia mengatakan rumah sakitnya telah melihat penerimaan pasien berlipat ganda sejak minggu lalu. "Ini hanya akan berakhir setelah jumlahnya turun tetapi siapa yang tahu kapan ini akan terjadi?" tambahnya.

Melonjaknya kasus infeksi selama dua minggu terakhir telah memberikan tekanan yang signifikan pada sistem perawatan kesehatan negara ini.. Waktu tunggu dan tingkat hunian tempat tidur di rumah sakit telah melonjak.

Bangsal baru dibuka hampir setiap hari selama beberapa bulan terakhir. Hal ini disampaikan oleh petugas kesehatan dari Pusat Nasional untuk Penyakit Menular (NCID) dan rumah sakit seperti Rumah Sakit Umum Singapura dan Rumah Sakit Umum Changi.

"Saya pernah mengalami situasi di mana bangsal dibuka sekitar jam 9 malam, dan pada jam 10 malam sudah ada lebih dari 10 pasien datang sekaligus, menunggu saya untuk melihat mereka ... Saya tidak pernah mengalami panggilan yang menyedihkan sepanjang hidup medis saya," kata salah satu petugas medis dari NCID.

"Bangsal dirancang untuk penyakit menular ... seharusnya satu pasien diisolasi di satu kamar. Jadi kami mencoba untuk mengakomodasi ini dengan membuka bangsal baru."

Akibat pasien yang datang secara non-stop, dua atau bahkan tiga pasien kini terpaksa ditempatkan di satu ruangan.

"Saya sudah lama tak melihat siang hari," kata seorang dokter junior di Singapura.

Di antara rumah sakit yang dilacak oleh Kementerian Kesehatan (MOH), angka terbaru menunjukkan bahwa tingkat hunian tempat tidur harian berkisar antara 75% hingga hampir 95% dari 26 September hingga 2 Oktober.

"Ini memberikan tekanan pada sumber daya kami karena meskipun Anda dapat membuka lebih banyak tempat tidur untuk menampung lebih banyak pasien, Anda juga membutuhkan lebih banyak perawat dan dokter untuk merawat mereka," kata petugas kesehatan lain di Rumah Sakit Umum Changi.

"Bagi seorang perawat untuk menangani satu pasien di ICU tidaklah mudah. Jadi kadang ada dua perawat untuk satu pasien, dan mereka saling membantu," katanya seraya menambahkan bahwa dokter junior juga bertugas untuk membantu.

Penuhnya ruang perawatan tidak diiringi dengan jumlah tenaga kerja. Diketahui jumlah perawat tahun 2020 di Singapura turun untuk pertama kalinya dalam setidaknya 15 tahun.

Laporan tahunan Dewan Perawat Singapura memaparkan ada 42.096 perawat pada tahun 2020, berkurang 572 orang dari tahun 2019 sebelumnya.

Kementerian Kesehatan (MOH) mengatakan mereka akan membawa lebih banyak tenaga kerja dengan menjangkau mereka yang terdaftar di Singapore Healthcare Corps, serta perawat yang terdaftar di dewan keperawatan tetapi tidak dalam praktik aktif.

Sejauh ini, sekitar 900 orang nakes mengiyakan panggilan MOH. Kini secara bertahap akan dirujuk ke rumah sakit umum untuk disesuaikan dengan posisi yang kosong.

Kini Singapura tercatat memiliki total kasus Covid-19 sejak pandemic menyerang mencapai 135.395 kasus dengan 192 kematian.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading