Waspada! Drama Krisis Evergrande Masih Jauh dari Kata Usai

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
10 October 2021 19:15
FILE PHOTO: The China Evergrande Centre building sign is seen in Hong Kong, China. August 25, 2021. REUTERS/Tyrone Siu/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor obligasi Evergande Group khawatir gagal bayar (default) utang raksasa properti tersebut kian nyata. Imbal hasil obligasi perseroan melesat 500%, yang menunjukkan aksi jual besar-besaran, di tengah munculnya perusahaan dengan kasus serupa.

Evergrande saat ini dibelit utang dahsyat dengan nilai US$ 300 miliar, dan telah terlambat melunasi obligasi dalam dolar AS senilai total US$ 131 juta yang jatuh tempo pada 23 September dan 29 September.

Kini perseroan berada di masa tenggat selama 30 hari untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran bunga utangnya tersebut dan belum memberikan kejelasan mengenai pembayaran kewajiban utang kepada pemegang obligasi di luar negeri.


qSumber: Refinitiv

"Kami semua merasa gagal bayar dalam waktu dekat atas kewajiban obligasi offshore [diterbitkan di luar negeri] akan dan sedang terjadi dalam waktu dekat," tutur Bert Grisel, Direktur Pelaksana Moelis & Co, seperti dikutip Reuters.

Moelis merupakan penasihat para investor obligasi Evergrande di luar negeri, yang sedang memperjuangkan haknya. Bersama Kirkland & Ellis, dia mewakili pemegang obligasi Evergrande bernilai total US$ 5 miliar.

Pekan depan, perseroanĀ harus membayar kewajiban obligasi tambahan senilai US$ 150 juta. Namun menurut Moelis, belum ada komunikasi maupun iktikad baik dari pihak Evergrande untuk berdialog menyelesaikan persoalan utang tersebut.

Sejauh ini, Evergrande telah menyatakan akan menjual sahamnya senilai US$ 1,5 miliar di Shengjing Bank Co. Ltd. Namun, bank tersebut sudah menagih hasil penjualan saham tersebut untuk membayar kredit yang dikucurkan Shengjing kepada raksasa properti tersebut. Para investor pemegang obligasi perseroan pun gigit jari.

Belum selesai persoalan Evergrande, pada Jumat (8/10/2021), otoritas bursa setempat alias Shanghai Stock Exchange menghentikan sementara perdagangan dua obligasi perusahaan properti yakni Fantasia Group China Co dan Holdings Group.

Harga obligasi Fantasi anjlok hingga lebih dari 50% setelah pemegang saham pengendalinya melawati batas waktu pembayaran kewajiban utang obligasinya senilai US$ 206 juta yang semestinya dibayarkan pada Senin.

Dalam keterbukaan informasi, Fantasia Holding pada Jumat kemarin mengatakan bahwa perseroan telah menunjuk Houlihan Lokey dan Sidley Austin sebagai penasihat keuangannya, untuk mencari jalan keluar dengan mengecek struktur permodalan dan likuiditasnya.

Kini, nasib Evergrande dan Fantasia berada di satu keranjang yang sama, yakni berpotensi gagal bayar. Harga obligasi mereka pun telah anjlok hingga 80% dari nilainya.

Problem Likuiditas yang Sama
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading