Harga Batu Bara Meledak, Hati-Hati RI Jangan Terlena

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
08 October 2021 14:30
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara saat ini tengah melambung tinggi di atas US$ 200 per ton. Melihat harga yang tinggi, penambang pun jor-joran dalam melakukan ekspor.

Namun demikian, Ekonom INDEF Abra Talattov berpandangan agar jangan terlena pada harga batu bara yang sedang melangit ini. Bahkan, seharusnya menjadikan momentum Indonesia untuk menggaet investasi ke dalam negeri.

Krisis energi dan semakin terbatasnya suplai batu bara di sejumlah negara menurutnya mestinya dimanfaatkan oleh Indonesia untuk berdaya tawar lebih besar lagi, apalagi negara ini merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.


"Krisis energi, semakin terbatasnya suplai batu bara (di beberapa negara), kita sebagai produsen batu bara terbesar ini harus dimanfaatkan benar bargaining, baik perdagangan maupun investasi melakukan rebalancing perdagangan dan investasi," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (08/10/2021).

Dia meminta agar jangan sampai terlena dengan kenaikan harga ini, sehingga hanya mengambil sikap pragmatis dengan melakukan ekspor secara jor-joran. Menurutnya memang secara jangka pendek akan mendulang keuntungan tinggi karena ekspor batu bara, namun di sisi lain ini bakal menguras cadangan batu bara.

"Jangan sampai terlena dengan harga tinggi ini, sehingga bersikap masih pragmatis, masih ekspor jor-joran," ujarnya.

Abra menekankan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana kebutuhan pasokan batu bara dalam negeri bisa terpenuhi. Saat ini dia sebut sudah muncul wacana revisi aturan Domestic Market Obligation (DMO), menurutnya meski bisa menaikan ekspor, revisi aturan DMO batu bara akan berdampak negatif pada industri dan perusahaan utilitas dalam negeri.

"Karena ini jadi bargaining position pemerintah harusnya sigap tarik investor negara-negara yang alami krisis. Mereka alami persoalan suplai, pemerintah harus bisa menangkap peluang," jelasnya.

Sejak akhir 2020 (year to date), harga batu bara telah meroket 188,7%. Kini harganya telah menembus US$ 200 per ton, bahkan dua hari lalu sempat hampir US$ 300 per ton, dibandingkan pada awal tahun yang masih berada di kisaran US$ 80 per ton.

Pada perdagangan di pasar ICE Newcastle (Australia) kemarin, Kamis (07/10/2021), harga batu bara masih di atas US$ 200 per ton, yakni US$ 224,90 per ton, meski anjlok dibandingkan dua hari sebelumnya yang mencapai masa puncaknya US$ 280an per ton.

Adapun harga batu bara untuk pembangkit listrik dan industri di dalam negeri dibatasi maksimal US$ 70 per ton.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading