Harga Meroket Tapi Produksi Batu Bara RI Susah Naik, Kenapa?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
08 March 2022 12:50
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga batu bara masih terus terjadi dan masih bertahan di atas US$ 400 per ton. Kemarin, Senin (07/03/2022), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 435 per ton, naik 6,87% dari hari sebelumnya dan menyentuh rekor tertinggi setidaknya sejak 2008.

Ini membuat harga batu bara naik selama dua hari beruntun. Dalam dua hari tersebut, harga melonjak 21,35%.

Meski lonjakan harga ini menggiurkan, namun dari sisi produksi batu bara nasional pada tahun ini disebut belum tentu mampu digenjot melebihi target 663 juta ton.


Staf Khusus Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara (Minerba) Irwandy Arif mengungkapkan, menambah produksi batu bara di dalam negeri tak semudah seperti membuat pisang goreng. Artinya, sangat sulit dilakukan.

Pemerintah tahun ini membidik target produksi batu bara Indonesia mencapai 663 juta ton, di mana sebanyak 497,2 juta ton dijual keluar negeri (diekspor) dan sisanya 165,7 juta ton untuk dalam negeri.

"Pemerintah sampai saat ini masih tetap pada rencana, bahwa di 2022 produksi batu bara akan berada di sekira 660 juta ton, yang akan segera dibuatkan aturannya," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Senin (7/3/2022).

Lagi pula, imbuhnya, menaikkan produksi batu bara di Indonesia tak seperti menjual pisang goreng, di mana ketika permintaan naik, maka penjual atau produsen dengan mudah menaikkan jumlah ketersediaan pisang gorengnya.

Pasalnya, untuk meningkatkan produksi batu bara, maka diperlukan peralatan yang tidak banyak dijumpai di pasaran. Belum lagi sumber daya manusia yang memadai.

"Jadi, kenaikan produksi harga batu bara di Indonesia tidak bisa seperti kita menjual pisang goreng, tambah pisangnya untuk dijual. Karena dia akan mengikuti constraint, jumlah alat-alat produksi yang tidak mudah didapatkan di pasaran, karena semua perusahaan misalkan menaikkan produksinya," tutur Irwandy.

"Kedua, kapal untuk transportasi batu bara di dalam negeri dan luar negeri terbatas, sehingga keterbatasan ini menjadi parameter yang akan membatasi kenaikan lonjakan batu bara bila diinginkan. Masih ada parameter lainnya yang harus diperhitungkan," kata Irwandy melanjutkan.

Akibat tingginya harga batu bara dunia, Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk Maret 2022 ikut melejit ke angka US$ 203,69 per ton atau naik US$ 15,31 per ton dari Februari senilai US$ 188,38 per ton.

Adapun harga jual batu bara untuk kepentingan dalam negeri seperti pembangkit listrik masih dipatok maksimal sebesar US$ 70 per ton.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Usai Reli Panjang, HBA Desember Anjlok ke US$ 159,79/Ton!


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading