Internasional

Well.. Biden & Xi Jinping Segera Ketemuan Sebelum Tahun Baru

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
07 October 2021 08:55
FILE - In this Dec. 4, 2013, file photo, Chinese President Xi Jinping, right, shakes hands with then U.S. Vice President Joe Biden as they pose for photos at the Great Hall of the People in Beijing. As Americans celebrate or fume over the new president-elect, many in Asia are waking up to the reality of a Joe Biden administration with decidedly mixed feelings. Relief and hopes of economic and environmental revival jostle with needling anxiety and fears of inattention. The two nations are inexorably entwined, economically and politically, even as the U.S. military presence in the Pacific chafes against China’s expanded effort to have its way in what it sees as its natural sphere of influence. (AP Photo/Lintao Zhang, Pool, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan pemimpin China Xi Jinping berencana menggelar pertemuan virtual sebelum akhir tahun 2021. Hal ini disampaikan oleh seorang pejabat senior pemerintah AS Kayla Tausche, Rabu (6/10/2021).

Tausche mengatakan kedua pemimpin telah mencapai "kesepakatan prinsip" untuk melakukan pertemuan bilateral virtual. Ini akan menjadi bagian dari upaya mengelola persaingan antara kedua negara ekonomi dunia tersebut.


Pertemuan virtual dilakukan karena Xi tidak berencana untuk menghadiri acara multilateral secara langsung, termasuk G20, COP26 dan APEC. Kesepakatan itu juga menyusul pertemuan tingkat tinggi antara penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan dan diplomat senior China Yang Jiechi di Zurich, Swiss, kemarin.

Sementara itu, surat kabar Hong Kong South China Morning Post (SCMP) mengutip sumber mengatakan pertemuan di Zurich memiliki tujuan untuk membangun komunikasi kedua negara. "Menerapkan konsensus yang dicapai (antara Xi Jinping dan Biden)," tulis media itu.

AS dan China melakukan pembicaraan pertama mereka pada 9 September 2021, tujuh bulan setelah tidak melakukan komunikasi. Dalam panggilan 90 menit tersebut, Biden dan Xi membahas perlunya memastikan bahwa persaingan antara dua ekonomi terbesar dunia tidak mengarah ke konflik.

Setelahnya Biden dan Xi juga kembali berkomunikasi. Keduanya sudah sepakat soal Taiwan. AS sendiri merupakan pendukung utama pemerintahan pulau itu.

"Saya sudah berbicara dengan Xi tentang Taiwan. Kami setuju ... kami akan mematuhi perjanjian Taiwan," katanya, dikutip dari Reuters saat diwawancarai wartawan Selasa malam.

"Kami menjelaskan bahwa saya tidak berpikir dia harus melakukan apa pun selain mematuhi perjanjian," tambahnya.

Biden tampaknya merujuk pada "kebijakan satu China" lama, di mana AS secara resmi mengakui China daripada Taiwan dan Undang-Undang Hubungan Taiwan, yang memperjelas keputusan AS membangun hubungan diplomatik dengan China alih-alih Taiwan.

Sebelumnya, Perwakilan Dagang AS Katherine Tai mengatakan berharap bisa segera berdiskusi dengan China. Ini ia katakan di sela-sela pertemuan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Di hari yang sama, ia sempat memaparkan kegagalan China dalam menepati janji yang dibuat dalam kesepakatan perdagangan di masa Presiden Donald Trump. Perjanjian itu, dikenal dengan fase I, menjadi tanda damai sementara perang dagang antara kedua negara sejak 2018 setelah Trump memimpin AS.

Global Times, media corong pemerintah menyebut China sesungguhnya bersedia membangun perdagangan yang menguntungkan dengan AS. Tetapi negeri itu tak takut pada persaingan yang berlarut-larut.

"Perang dagang China dan AS telah berlangsung lebih dari tiga setengah tahun. Bukannya melemah, ekonomi China telah melangkah maju, dibandingkan dengan AS," tulis media itu.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading