Peternak Ayam Tolak Jagung Subsidi Jokowi, Ada Apa?

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
02 October 2021 18:40
Presiden Joko Widodo terima Perhimpunan Insan Perunggasan dan Peternak Ayam Petelur, 15 September 2021. (Biro Pers Sekretariat Presiden/ Lukas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pertengahan September lalu mengundang kalangan peternak nasional ke Istana Kepresidenan Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, kalangan peternak mengeluhkan harga pakan jagung yang terus melambung tinggi. Mereka menjerit, karena mengalami kerugian dalam jumlah besar.

Saat itu, Kepala Negara langsung memerintahkan jajarannya untuk mengatasi hal tersebut. Jokowi ingin agar masalah harga pakan jagung bisa segera selesai,


Instruksi itu kemudian ditindaklanjuti. Kementerian Pertanian telah mengirimkan jagung subsidi seharga Rp 4.500 per kilo gram (kg) kepada Koperasi Peternak Ayam Blitar agar ketersediaan pakan ayam terjangkau.

Meski demikian, jagung tersebut memiliki kadar air 25-29%, sementara standar kadar air jagung layak untuk pakan ayam hanya 15%. Para peternak mengaku menerima jagung dengan kondisi basah.

"Dengan kondisi basah, peternak takut ambil," kata Ketua Pinsar Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso, dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/10/2021).

Meski sebagian basah, namun hal ini adalah bagian dari membangun kemitraan dan kepercayaan antara gabungan kelompok tani dengan peternak.

Yudianto meminta komitmen pemerintah menyiapkan 30.000 ton jagung harus segera terealisasi. Saat ini, sambungnya, peternak masih kesulitan mencari pakan dari jagung, meski harganya Rp 5.300-Rp 5.700 per kg.

Sebagai informasi, Yudianto sendiri merupakan salah satu peternak yang hadir saat bertemu Jokowi beberapa waktu lalu.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN menugaskan Perum Bulog untuk memasok 30.000 ton jagung pakan kepada peternak rakyat dengan harga yang sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP) yaitu Rp4.500 per kg.

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara, Alvino Antonio mengatakan, masalah pakan unggas bukan karena jagung yang tidak ada, tapi harga jagungnya yang mahal.

Harga yang beredar di pasar tidak sesuai dengan harga acuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 7/2020 yaitu Rp 4.500. Alvino dan peternak mempertanyakan surplus jagung yang tak selaras dengan harga di pasar yang tetap tinggi.

"Ditambah lagi peternak rakyat rugi karena harga jual telur nya di kandang sekitar 14.500-15.000 per kg, sedangkan HPP mereka karena harga jagung di kisaran 6.000-6.200 per kg, kemudian HPP peternak rakyat di 21.000 per kg, jadi peternak menanggung kerugian antara 6.000-7.000 per kg," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading