Internasional

Duh! Covid Lagi Meledak, Singapura Kena "Resesi Seks"

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
29 September 2021 14:10
The Wallich Residence bangunan tertinggi di Singapura yang terletak di dalam Tanjong Pagar Centre. (CNBC/Everett Rosenfeld)

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura sepertinya terinfeksi 'resesi seks'. Jumlah pernikahan di negara itu turun drastis ke level terendah dalam 34 tahun terakhir sementara kelahiran warga juga tergelincir ke level terendah selama tujuh tahun.

Resesi sendiri adalah istilah ekonomi untuk pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. Covid-19 disebut menjadi biang keladinya, di mana pandemi mengganggu rencana pasangan untuk menikah dan menjadi orang tua.


Mengutip Channel News Asia (CNA), ada 19.430 pernikahan tahun lalu. Ini turun 12,3% dari tahun sebelumnya 22.165.

Ini adalah catatan terendah sejak 1986, ketika ada 19.348 pernikahan. "Pembatasan pertemuan besar pada tahun lalu bisa menyebabkan pasangan menunda pernikahan mereka," ujar rilis Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura, dikutip Rabu (29/9/2021).

Di tahun lalu, median usia pernikahan di Negeri Singa adalah 30tahun untuk pria dan 28 tahun untuk wanita. Sebanyak 30% pernikahan melibatkan pasangan transnasional tapi ini turun 37% dari 2019.

"Penurunan ini mungkin sebagian karena pembatasan perjalanan terkait Covid-19," ujar badan itu lagi.

Bukan hanya pernikahan, pandemi juga menyebabkan berkurangnya keputusan menjadi orang tua. Hanya ada 31.816 kelahiran di negeri itu di 2020 atau 3,1% lebih rendah dibanding sebelumnya, 32.844.

Ini adalah jumlah terendah sejak 2013. Dalam lima tahun 2016-2020, rata-rata ada 32.500 kelahiran, sedikit lebih banyak dari 32.400 dalam lima tahun sebelumnya 2011-2015.

Usia rata-rata ibu yang melahirkan pertama adalah 30,8 di 2020. Ini mirip dengan di 2019, 30,6 tahun.

Badan kependudukan Singapura mengatakan bahwa dalam survei terhadap sekitar 4.000 orang di Juni 2020, beberapa responden mengatakan bahwa mereka telah menunda pernikahan dan menjadi orang tua

"Karena kekhawatiran tentang kondisi kesehatan dan ekonomi masyarakat yang tidak pasti," ujar otoritas itu seraya menyebut masih menelaah dampak Covid.

"Kami terus menghadapi tantangan struktural jangka panjang dengan tingkat kelahiran kami yang rendah, serupa dengan masyarakat maju lainnya," katanya.

Sebelumnya, Singapura memberi insentif bagi mereka yang ingin memiliki anak dan menjadi orang tua di tengah pandemi. Di mana ada dana hibah 3.000 dolar Singapura.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Singapura Pening "Resesi Seks", Wanita Lajang Diizinkan Ini


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading